Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:
• interaksi sosial,
• komunikasi (bahasa dan bicara),
• perilaku-emosi,
• pola bermain,
• gangguan sensorik dan motorik
• perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
Diagnosa Perpasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD – NOS) umumnya digunakan atau dipakai di Amerika Serikat untuk menjelaskan adanya beberapa karakteristik autisme pada seseorang (Howlin, 1998: 79). National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) di Amerika Serikat menyatakan bahwa Autisme dan PDD – NOS adalah gangguan perkembangan yang cenderung memiliki karakteristik serupa dan gejalanya muncul sebelum usia 3 tahun. Keduanya merupakan gangguan yang bersifat neurologis yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi, pemahaman bahasa, bermain dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan dan adanya respon-respon yang tidak wajar terhadap pengalaman sensoris seringkali juga dihubungkan pada gejala autisme.
Diagnosa Autisme Sesuai DSM IV
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Seorang anak penderita autisme, dengan jajaran mainan yang ia buat
Gejala autisme dapat sangat ringan (mild), sedang (moderate) hingga parah (severe), sehingga masyarakat mungkin tidak menyadari seluruh keberadaannya. Parah atau ringannya gangguan autisme sering kemudian di-paralel-kan dengan keberfungsian. Dikatakan oleh para ahli bahwa anak-anak dengan autisme dengan tingkat intelegensi dan kognitif yang rendah, tidak berbicara (nonverbal), memiliki perilaku menyakiti diri sendiri, serta menunjukkan sangat terbatasnya minat dan rutinitas yang dilakukan maka mereka diklasifikasikan sebagai low functioning autism. Sementara mereka yang menunjukkan fungsi kognitif dan intelegensi yang tinggi, mampu menggunakan bahasa dan bicaranya secara efektif serta menunjukkan kemampuan mengikuti rutinitas yang umum diklasifikasikan sebagai high functioning autism. Dua dikotomi dari karakteristik gangguan sesungguhnya akan sangat berpengaruh pada implikasi pendidikan maupun model-model treatment yang diberikan pada para penyandang autisme. Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.
Referensi baku yang digunakan secara universal dalam mengenali jenis-jenis gangguan perkembangan pada anak adalah ICD (International Classification of Diseases) Revisi ke-10 tahun 1993 dan DSM (Diagnostic And Statistical Manual) Revisi IV tahun 1994 yang keduanya sama isinya. Secara khusus dalam kategori Gangguan Perkembangan Perpasiv (Perpasive Developmental Disorder/PDD): Autisme ditunjukkan bila ditemukan 6 atau lebih dari 12 gejala yang mengacu pada 3 bidang utama gangguan, yaitu: Interaksi Sosial – Komunikasi – Perilaku.
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
• Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
• The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
• The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
• The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan konsentrasi.
Diagnosa yang akurat dari Autisme maupun gangguan perkembangan lain yang berhubungan membutuhkan observasi yang menyeluruh terhadap: perilaku anak, kemampuan komunikasi dan kemampuan perkembangan lainnya. Akan sangat sulit mendiagnosa karena adanya berbagai macam gangguan yang terlihat. Observasi dan wawancara dengan orang tua juga sangat penting dalam mendiagnosa. Evaluasi tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu memungkinkan adanya standardisasi dalam mendiagnosa. Tim dapat terdiri dari neurolog, psikolog, pediatrik, paedagog, patologis ucapan/kebahasaan, okupasi terapi, pekerja sosial dan lain sebaginya.
Gejala
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak ‘berbicara’ sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.
Prevalensi Individu dengan autisme
Diperkirakan terdapat 400.000 individu dengan autisme di Amerika Serikat. Sejak tahun 80 – an, bayi-bayi yang lahir di California – AS, diambil darahnya dan disimpan di pusat penelitian Autisme. Penelitian dilakukan oleh Terry Phillips, seorang pakar kedokteran saraf dari Universitas George Washington. Dari 250 contoh darah yang diambil, ternyata hasilnya mencengangkan; seperempat dari anak-anak tersebut menunjukkan gejala autis. National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY) memperkirakan bahwa autisme dan PDD pada tahun 2000 mendekati 50 – 100 per 10.000 kelahiran. Penelitian Frombonne (Study Frombonne: 2003) menghasilkan prevalensi dari autisme beserta spektrumnya (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah: 60/10.000 – best current estimate dan terdapat 425.000 penyandang ASD yang berusia dibawah 18 tahun di Amerika Serikat. Di Inggris, data terbaru adalah: 62.6/10.000 ASD. Autisme secara umum telah diketahui terjadi empat kali lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan yang terjadi pada anak perempuan. Hingga saat ini penyebabnya belum diketahui secara pasti. Saat ini para ahli terus mengembangkan penelitian mereka untuk mengetahui sebabnya sehingga mereka pun dapat menemukan ‘obat’ yang tepat untuk mengatasi fenomena ini. Bidang-bidang yang menjadi fokus utama dalam penelitian para ahli, meliputi; kerusakan secara neurologis dan ketidakseimbangan dalam otak yang bersifat biokimia. Dr. Ron Leaf saat melakukan seminar di Singapura pada tanggal 26 – 27 Maret 2004, menyebutkan beberapa faktor penyebab autisme, yaitu:
• Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
• Chromosome 7 – speech / language chromosome
• Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth
Meskipun para ahli dan praktisi di bidang autisme tidak selamanya dapat menyetujui atau bahkan sependapat dengan penyebab-penyebab di atas. Hal terpenting yang perlu dicatat melalui hasil penelitian-penelitian terdahulu adalah bahwa gangguan autisme tidak disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat psikologis, misalnya karena orang tua tidak menginginkan anak ketika hamil.
Bagaimana di Indonesia? Belum ditemukan data yang akurat mengenai keadaan yang sesungguhnya di Indonesia, namun dalam suatu wawancara di Koran Kompas; Dr. Melly Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua dari Yayasan Autisme Indonesia menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. “Bila sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat menjadi satu per 500 anak” (Kompas: 2000). Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staf bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak penyandang autisme di Indonesia. Jumlah tersebut menurutnya setiap tahun terus meningkat. Hal ini sungguh patut diwaspadai karena jika penduduk di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 160 juta, kira-kira berapa orang yang terdata sungguh-sungguh menyandang austime beserta spektrumnya?
Implikasi Diagnosa Autisme
Secara historis, diagnosa autisme memiliki persoalan; suatu ketika para ahli dan peneliti dalam bidang autisme bersandarkan pada ada atau tidaknya gejala, saat ini para ahli dan peneliti tampaknya berpindah menuju berbagai karakteristik yang disebut sebagai continuum autism. Aarons dan Gittents (1992) merekomendasikan adanya descriptive approach to diagnosis. Ini adalah suatu pendekatan deskriptif dalam mendiagnosa sehingga menyertakan observasi-observasi yang menyeluruh di setting-setting sosial anak sendiri. Settingya mungkin di sekolah, di taman-taman bermain atau mungkin di rumah sebagai lingkungan sehari-hari anak dimana hambatan maupun kesulitan mereka tampak jelas diantara teman-teman sebaya mereka yang ‘normal’.
Persoalan lain yang mempengaruhi keakuratan suatu diagnosa seringkali juga muncul dari adanya fakta bahwa perilaku-perilaku yang bermasalah merupakan atribut dari pola asuh yang kurang tepat. Perilaku-perilaku tersebut mungkin saja merupakan hasil dari dinamika keluarga yang negatif dan bukan sebagai gejala dari adanya gangguan. Adanya interpretasi yang salah dalam memaknai penyebab mengapa anak menunjukkan persoalan-persoalan perilaku mampu menimbulkan perasaan-perasaan negatif para orang tua. Pertanyaan selanjutnya kemudian adalah apa yang dapat dilakukan agar diagnosa semakin akurat dan konsisten sehingga autisme sungguh-sungguh terpisah dengan kondisi-kondisi yang semakin memperburuk? Perlu adanya sebuah model diagnosa yang menyertakan keseluruhan hidup anak dan mengevaluasi hambatan-hambatan dan kesulitan anak sebagaimana juga terhadap kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan anak sendiri. Mungkin tepat bila kemudian disarankan agar para profesional di bidang autisme juga mempertimbangkan keseluruhan area, misalnya: perkembangan awal anak, penampilan anak, mobilitas anak, kontrol dan perhatian anak, fungsi-fungsi sensorisnya, kemampuan bermain, perkembangan konsep-konsep dasar, kemampuan yang bersifat sikuen, kemampuan musikal, dan lain sebagainya yang menjadi keseluruhan diri anak sendiri.
Bagi para orang tua dan keluarga sendiri perlu juga dicatat bahwa gejala autisme bersifat individual; akan berbeda satu dengan lainnya meskipun sama-sama dianggap sebagai low functioning atau dianggap sebagai high functioning. Membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya dan konsistensi untuk dalam penanganannya sehingga perlu disadari bahwa bahwa fenomena ini adalah suatu perjalanan yang panjang. Jangan berhenti pada ketidakmampuan anak tetapi juga perlu menggali bakat-bakat serta potensi-potensi yang ada pada diri anak. Sebagai inspirasi kiranya dapat disebutkan beberapa penyandang autisme yang mampu mengembangkan bakat dan potensi yang ada pada diri mereka, misalnya: Temple Grandine yang mampu mengembangkan kemampuan visual dan pola berpikir yang sistematis sehingga menjadi seorang Doktor dalam bidang peternakan, Donna William yang mampu mengembangkan kemampuan berbahasa dan bakat seninya sehingga dapat menjadi seorang penulis dan seniman, Bradley Olson seorang mahasiswa yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif dan kebugaran fisiknya sehingga menjadi seorang pemuda yang aktif dan tangkas dan mungkin masih banyak nama-nama lain yang dapat menjadi sumber inspirasi kita bersama. Pada akhirnya, sebuah label dari suatu diagnosa dapat dikatakan berguna bila mampu memberikan petunjuk bagi para orang tua dan pendidik mengenai kondisi alamiah yang benar dari seorang anak. Label yang menimbukan kebingungan dan ketidakpuasan para orang tua dan pendidik jelas tidak akan membawa manfaat apapun.
Perkembangan Penelitian Autisme
Tahun 1960 penanganan anak dengan autisme secara umum didasarkan pada model psikodinamika, menawarkan harapan akan pemulihan melalui experiential manipulations (Rimland, 1964). Namun demikian model psikodinamika dianggap tidak cukup efektif. Pada pertengahan tahun 1960-an, terdapat sejumlah laporan penelitian bahwa pelaku psikodinamik tidak dapat memberikan apa yang mereka janjikan (Lovaas, 1987). Melalui berbagai literatur, dapat disebutkan beberapa ahli yang memiliki perbedaan filosofis, variasi-variasi treatment dan target-target khusus lainnya, seperti:
• Rimland (1964): Meneliti karakteristik orang tua yang memiliki anak dengan autisme, seperti: pekerja keras, pintar, obsesif, rutin dan detail. Ia juga meneliti penyebab autisme yang menurutnya mengarah pada faktor biologis.
• Bettelheim (1967): Ide penyebab autisme adalah adanya penolakan dari orang tua. Infantile Autism disebabkan harapan orang tua untuk tidak memiliki anak, karena pada saat itu psikoterapi yang sangat berpengaruh, maka ia menginstitusionalkan 46 anak dengan autistime untuk keluar dari stress berat. Namun tidak dilaporkan secara detail kelanjutan dari hasil pekerjaannya tersebut.
• Delacato (1974): Autisme disebabkan oleh Brain injured. Sebagai seorang Fisioterapi maka Delacato memberikan treatment yang bersifat sensoris. Pengaruh ini kemudian berkembang pada Doman yang dikemudian hari mengembangkan metode Gleen Doman.
• Lovaas (1987): Mengaplikasikan teori Skinne dan menerapkan Behavior Modification kepada anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan autistisme di dalamnya. Ia membuat program-program intervensi bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang dilakukannya di UCLA. Dari hasil program-program Lovaas, anak-anak dengan autisme mendapatkan program modifikasi perilaku yang kemudian berkembang secara professional dalam jurnal-jurnal psikologi.
Hingga saat ini terdapat banyak program intervensi perilaku bagi anak dengan autisme, setiap program memiliki berbagai variasi dan pengembangan-pengembangan sendiri sesuai dengan penelitian-penelitan dilakukan. Perkembangan studi mengenai autisme kemudian disampaikan oleh Rogers, Sally J., sebagaimana disebutkan di bawah ini:
• 1960s Heavy emphasis on causes of autism, correlates of autism
• 1970s Heavy emphasis on assessment, diagnosis: emerging literature on treatment
• 1980s Heavy emphasis on functional assessment and treatment, school-based services
• 1990s Heavy emphasis on social interventions, assessment, school-based services
• 2000s Litigation, school-based services
Penanganan Autisme di Indonesia
Intensitas dari treatment perilaku pada anak dengan autisme merupakan hal penting, namun persoalan-persoalan mendasar yang ditemui di Indonesia menjadi sangat krusial untuk diatasi lebih dahulu. Tanpa mengabaikan faktor-faktor lain, beberapa fakta yang dianggap relevan dengan persoalan penanganan masalah autisme di Indonesia diantaranya adalah:
1. viking & bonek layak masuk ke terapi autis.
1. Kurangnya tenaga terapis yang terlatih di Indonesia. Orang tua selalu menjadi pelopor dalam proses intervensi sehingga pada awalnya pusat-pusat intervensi bagi anak dengan autisme dibangun berdasarkan kepentingan keluarga untuk menjamin kelangsungan pendidikan anak mereka sendiri.
2. Belum adanya petunjuk treatment yang formal di Indonesia. Tidak cukup dengan hanya mengimplementasikan petunjuk teatment dari luar yang penerapannya tidak selalu sesuai dengan kultur kehidupan anak-anak Indonesia.
3. Masih banyak kasus-kasus autisme yang tidak di deteksi secara dini sehingga ketika anak menjadi semakin besar maka semakin kompleks pula persoalan intervensi yang dihadapi orang tua. Para ahli yang mampu mendiagnosa autisme, informasi mengenai gangguan dan karakteristik autisme serta lembaga-lembaga formal yang memberikan layanan pendidikan bagi anak dengan autisme belum tersebar secara merata di seluruh wilayah di Indonesia.
4. Belum terpadunya penyelenggaraan pendidikan bagi anak dengan autisme di sekolah. Dalam Pasal 4 UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah diamanatkan pendidikan yang demokratis dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, dukungan ini membuka peluang yang besar bagi para penyandang autisme untuk masuk dalam sekolah-sekolah umum (inklusi) karena hampir 500 sekolah negeri telah diarahkan oleh pemerintah untuk menyelenggarakan inklusi.
5. Permasalahan akhir yang tidak kalah pentingnya adalah minimnya pengetahuan baik secara klinis maupun praktis yang didukung dengan validitas data secara empirik (Empirically Validated Treatments/EVT) dari penanganan-penanganan masalah autisme di Indonesia. Studi dan penelitian autisme selain membutuhkan dana yang besar juga harus didukung oleh validitas data empirik, namun secara etis tentunya tidak ada orang tua yang menginginkan anak mereka menjadi percobaan dari suatu metodologi tertentu. Kepastian dan jaminan bagi proses pendidikan anak merupakan pertimbangan utama bagi orang tua dalam memilih salah satu jenis treatment bagi anak mereka sehingga bila keraguan ini dapat dijawab melalui otoritas-otoritas ilmiah maka semakin terbuka informasi bagi masyarakat luas mengenai pengetahuan-pengetahuan baik yang bersifat klinis maupun praktis dalam proses penanganan masalah autisme di Indonesia.
Terapi Bagi Individu dengan Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Berikut ini adalah suatu uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan penjelasan yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini. Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.
• Educational Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
• Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
• TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
• Biological Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
• Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), meliputi tetapi tidak terbatas pada usaha penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
• Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, seperti PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, strategi visual menggunakan gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
• Pelayanan Autisme Intensif, meliputi kerja team dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
• Terapi yang bersifat Sensoris, meliputi tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), Sensory Integration Therapy (SI) dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme. Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat tidak mungkin mengkontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.
Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai basisnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang tua maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, bila tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang nyata selama 3 bulan dapat melakukan perubahan terapi. Bimbingan dan arahan yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang tua secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya dapat ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para ahli bila terjadi perubahan-perubahan perilaku lainnya.
By : Sarah Marlina
Minggu, 04 April 2010
Efek Antropometri terhadap Kinerja Karyawan dan Efek Psikologisnya
Efek Antropometri terhadap Kinerja Karyawan dan Efek Psikologisnya
Antropometri (dari Bahasa Yunani άνθρωπος yang berati manusia and μέτρον yang berarti mengukur, secara literal berarti "pengukuran manusia"), dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu manusia untuk mengetahui variasi fisik manusia. Antropometri adalah cabang ergonomi yang berhubungan dengan bentuk dan ukuran tubuh. Setiap manusia memiliki ukuran tubuh yang berbeda-beda, tentunya perlu diperhatikan dalam alat kerja yang digunakannya agar dapat sesuai dengan ukuran fisik masing-masing individu. Antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri berkaitan dengan ukuran tubuh yang sangat bervariasi. Data-data mengenai ukuran tubuh manusia penting untuk desain ruang dan alat kerja. Ukuran tubuh manusia tergantung pada usia, jenis kelamin, keturunan, status gizi, dan kesehatan. Pulat (1992), bahwa antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai manusia. Kini, antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari, nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometrik.
PSG dengan metode antropometri adalah menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat menentukan status gizi manusia.[rujukan?] Konsep dasar yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri secara antropometri adalah Konsep Dasar Pertumbuhan
Faktor yang membuat manusia dapat bekerja tanpa merasa terlalu cepat lelah adalah peralatan kerja. Peralatan kerja merupakan hal yang paling diperhatikan dalam cara pengguannannya yang dapat memberikan kemudahan manusia dalam melakuan pekerjaannya. Ketidaknyamanan karyawan dalam pengunaan alat kerja membuat karyawan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Ketidaknyamanan dalam penggunaan alat kerja dapat mengganggu kinerja karyawan. Menurut Veithzal Rivai (2005:14)Kinerja merupakan hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standard hasil kerja, target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama.”
Efek dari antopometri dapat memberikan kemudahan bagi karyawan dalam menyesuaikan diri dengan alat kerja. Alat kerja yang tidak sesuai dengan fisik karyawan tentu dapat memberikan dampak cepat lelah pada karyawan. Bila peralatan pekrjaan tidak memperhatikan pendekatan antropometri, maka dampaknya pada karyawan menjadi cepat lelah. Karyawan yang cepat lelah dalam bekerja tentu dapat megakibatkan stress kerja pada karyawan karena merasa tubuhnya lelah sementara pekerjaan masih belum dikerjakan semua. Sebagai contoh, dalam ukuran tinggi badan tentu posisi tinggi mesin harus diperhatikan sesuai atau tidak dengan tinggi karyawan, agar karyawan dapat mudah mengoperasikan mesin tersebut. Begitu pula dengan ukuran panjang tangan sesuai atau tidak posisinya dengan karyawan sehingga mudah dijangkau oleh karyawan. Ukuran fisik karyawan sangat penting diperhatikan supaya kinerja karyawan dapat terlaksana dengan baik.
Jika kita melihat ke sekeliling kita, banyak terdapat keragaman bentuk atau ukuran tubuh yang bisa kita dapat bahkan hanya dalam sekilas pandang saja. Seperti : wanita yang itu jangkung sedangkan pria disampingnya kurang tinggi, kemudian Si Rani langsing tapi yah kok si Rangganya gendut. Selain itu, misalnya dalam hal pekerjaan di kantor, mungkin saat dikantor, kabin lemari tempat menyimpan file – file penting letaknya tidak teraih tangan kita karena tinggi badan yang kurang. Lalu kita memutar otak, kita pasti membutuhkan sesuatu untuk meraih gagang kabin lemari tersebut, kemudian kita mungkin langsung mencari bangku atau alat bantu yang lainnya untuk membantu kita, dan segera menaikinya untuk mengambil file yang kita butuhkan.
Dalam hal kerja, kerja manusia secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Kerja fisik dan mental masing-masing mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Nah, pada kasus diatas, ukuran atau bentuk tubuh mempengaruhi kinerja kita, seandainya jika ukuran tubuh kita sedikit lebih tinggi, mungkin kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencari kursi sehingga yang tadinya kita berkonsentrasi dan merasa nyaman pada pekerjaan tidak perlu konsentrasi dan kenyamanan kita terganggu dengan hal-hal kecil tersebut. Dalam hal ini, kerja fisik (antropometri) dan kerja mental (psikologis) jadi terganggu, sehingga hasil pekerjaan kita juga ikut terganggu.
By : Sarah Marlina
Antropometri (dari Bahasa Yunani άνθρωπος yang berati manusia and μέτρον yang berarti mengukur, secara literal berarti "pengukuran manusia"), dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu manusia untuk mengetahui variasi fisik manusia. Antropometri adalah cabang ergonomi yang berhubungan dengan bentuk dan ukuran tubuh. Setiap manusia memiliki ukuran tubuh yang berbeda-beda, tentunya perlu diperhatikan dalam alat kerja yang digunakannya agar dapat sesuai dengan ukuran fisik masing-masing individu. Antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri berkaitan dengan ukuran tubuh yang sangat bervariasi. Data-data mengenai ukuran tubuh manusia penting untuk desain ruang dan alat kerja. Ukuran tubuh manusia tergantung pada usia, jenis kelamin, keturunan, status gizi, dan kesehatan. Pulat (1992), bahwa antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai manusia. Kini, antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari, nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometrik.
PSG dengan metode antropometri adalah menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat menentukan status gizi manusia.[rujukan?] Konsep dasar yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri secara antropometri adalah Konsep Dasar Pertumbuhan
Faktor yang membuat manusia dapat bekerja tanpa merasa terlalu cepat lelah adalah peralatan kerja. Peralatan kerja merupakan hal yang paling diperhatikan dalam cara pengguannannya yang dapat memberikan kemudahan manusia dalam melakuan pekerjaannya. Ketidaknyamanan karyawan dalam pengunaan alat kerja membuat karyawan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Ketidaknyamanan dalam penggunaan alat kerja dapat mengganggu kinerja karyawan. Menurut Veithzal Rivai (2005:14)Kinerja merupakan hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standard hasil kerja, target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama.”
Efek dari antopometri dapat memberikan kemudahan bagi karyawan dalam menyesuaikan diri dengan alat kerja. Alat kerja yang tidak sesuai dengan fisik karyawan tentu dapat memberikan dampak cepat lelah pada karyawan. Bila peralatan pekrjaan tidak memperhatikan pendekatan antropometri, maka dampaknya pada karyawan menjadi cepat lelah. Karyawan yang cepat lelah dalam bekerja tentu dapat megakibatkan stress kerja pada karyawan karena merasa tubuhnya lelah sementara pekerjaan masih belum dikerjakan semua. Sebagai contoh, dalam ukuran tinggi badan tentu posisi tinggi mesin harus diperhatikan sesuai atau tidak dengan tinggi karyawan, agar karyawan dapat mudah mengoperasikan mesin tersebut. Begitu pula dengan ukuran panjang tangan sesuai atau tidak posisinya dengan karyawan sehingga mudah dijangkau oleh karyawan. Ukuran fisik karyawan sangat penting diperhatikan supaya kinerja karyawan dapat terlaksana dengan baik.
Jika kita melihat ke sekeliling kita, banyak terdapat keragaman bentuk atau ukuran tubuh yang bisa kita dapat bahkan hanya dalam sekilas pandang saja. Seperti : wanita yang itu jangkung sedangkan pria disampingnya kurang tinggi, kemudian Si Rani langsing tapi yah kok si Rangganya gendut. Selain itu, misalnya dalam hal pekerjaan di kantor, mungkin saat dikantor, kabin lemari tempat menyimpan file – file penting letaknya tidak teraih tangan kita karena tinggi badan yang kurang. Lalu kita memutar otak, kita pasti membutuhkan sesuatu untuk meraih gagang kabin lemari tersebut, kemudian kita mungkin langsung mencari bangku atau alat bantu yang lainnya untuk membantu kita, dan segera menaikinya untuk mengambil file yang kita butuhkan.
Dalam hal kerja, kerja manusia secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Kerja fisik dan mental masing-masing mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Nah, pada kasus diatas, ukuran atau bentuk tubuh mempengaruhi kinerja kita, seandainya jika ukuran tubuh kita sedikit lebih tinggi, mungkin kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencari kursi sehingga yang tadinya kita berkonsentrasi dan merasa nyaman pada pekerjaan tidak perlu konsentrasi dan kenyamanan kita terganggu dengan hal-hal kecil tersebut. Dalam hal ini, kerja fisik (antropometri) dan kerja mental (psikologis) jadi terganggu, sehingga hasil pekerjaan kita juga ikut terganggu.
By : Sarah Marlina
Jumat, 26 Februari 2010
DIET SEHAT : RAHASIA UMUR PANJANG
Diet Sehat: Rahasia Umur Panjang
Tahukah Anda bahwa makanan yang kita makan memberikan pengaruh yang besar terhadap kesehatan kita?
Makanan yang kita makan dapat menolong kita hidup sehat dan berumur panjang. Makanan yang kita makan dapat melindungi kita dari sakit jantung, kanker, diabetes, dan masalah kegemukan. Makanan juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan influenza ataupun infeksi virus atau bakteri lainnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah makanan yang bagaimana yang dapat melindungi kita dari berbagai macam penyakit? Makanan apa yang dapat menolong kita bebas dari masalah kegemukan dan yang dapat membuat kita berumur panjang?
Jawabnya adalah diet sehat. Diet sehat merupakan rahasia umur panjang. Diet sehat membuat kita terhindar dari berbagai penyakit yang mematikan. Diet sehat juga dapat membantu tubuh kita mengoptimalkan tingkat energi yang berguna untuk mengatasi masalah stress.
Lalu pola diet yang bagaimana yang termasuk dalam kategori diet sehat? Apa yang mesti kita upayakan untuk mengikuti cara hidup sehat supaya kita dapat merasakan manfaat diet dalam hidup kita? Dengan gamblang, segala sesuatu yang berkenaan dengan diet sehat termasuk pola diet sehat dan tips diet sehat dibahas disini.
Apakah diet sehat itu? Apakah semua program diet yang dikenal di masyarakat adalah diet sehat?
Sebelum kita mempelajari apa diet sehat itu, kita melihat terlebih dahulu apa arti kata “diet” sebenarnya.
Menurut Ensiklopedia Webster’s New World, diet adalah suatu seleksi makanan untuk orang tertentu. Diet khusus mungkin disarankan untuk alasan medis, untuk menyeimbangkan, untuk membatasi, atau untuk meningkatkan nutrisi tertentu. Diet juga dilakukan untuk menurunkan berat badan, yaitu dengan mengurangi asupan kalori atau pemilihan makanan tertentu. Diet tertentu juga diikuti karena latar belakang agama, moral, atau alasan ekstetika.
Jelas bahwa diet yang lebih populer untuk tujuan melangsingkan tubuh, sebenarnya juga dilakukan untuk beberapa alasan lainnya. Makanan yang kita makan dapat menolong kita tidak terkena penyakit tertentu, bahkan dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Berbagai jenis diet berikut merupakan jenis-jenis diet dengan beragam alasan.
1. diet Vegetarian
* dilatar-belakangi oleh agama dan alasan moral dan kemanusiaan.
2. diet Vegan
* dilatar-belakangi oleh agama dan alasan moral dan kemanusiaan.
3. Dr. Hay diet
* dilatar-belakangi oleh alasan medis dan menurunkan berat badan
4. diet macrobiotic
* dilatar-belakangi oleh alasan kesehatan dan umur panjang
5. diet fruitarian
* dilatar-belakangi oleh alasan medis, seperti penderita alergi
6. diet Yahudi (kosher)
* dilatar-belakangi oleh hukum agama dan adat
7. diet Islam (halal)
* dilatar-belakangi oleh tuntutan agama
8. diet Atkins
* dilatar-belakangi oleh tujuan menurunkan berat badan
9. diet golongan darah
* dilatar-belakangi oleh tujuan hidup sehat dan menurunkan berat badan
10. soup cabbage diet
* dilatar-belakangi oleh tujuan menurunkan berat badan
Jadi, apakah semua jenis diet diatas adalah diet sehat?
Untuk menjawab pertanyaan apakah semua jenis diet untuk beragam latar belakang yang disebut diatas adalah diet sehat, kita perlu melihat komposisi pilihan makanan di dalam jenis diet itu. Kita perlu mempelajari kriteria dalam diet sehat. Kriteria diet sehat terletak pada nilai asupan gizi dari pemilihan makanan tertentu sebagai program diet. Bila nutrisi yang terkandung dalam makanan tidak memenuhi standar kriteria diet sehat, maka pelaku diet perlu menyadari dan tidak meneruskan pola diet yang demikian. Jadi, tidak semua jenis diet adalah diet sehat.
Apa kriteria pola diet yang seimbang?
Diet sehat adalah diet seimbang yang mengandung
• banyak serat sayuran
• karbohidrat kompleks
• vitamin, mineral
• enzim
• minyak tidak jenuh yang dapat menjaga keseimbangan level kolesterol dalam darah
Makanan pada dasarnya merupakan sumber energi bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Makanan mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme. Adapun nutrisi yang terkandung dalam makanan adalah karbohidrat, gula, serat, protein, dan lemak, dan juga vitamin serta mineral. Tiap-tiap zat mempunyai fungsi yang berbeda. Karbohidrat, protein dan lemak, misalnya berfungsi sebagai sumber utama energi, sementara serat berfungsi untuk membantu proses pencernaan. Tanpa serat yang cukup, proses pencernaan akan terganggu. Demikian pula dengan vitamin dan mineral yang mempunyai tugas yang sangat penting yaitu mengoptimalkan proses pencernaan dan penyerapan makanan.
Menu diet sehat adalah diet seimbang yang mengandung banyak serat sayuran. Menu diet sehat tidak mengandung banyak lemak jenuh berasal dari binatang. Dalam proses metabolisme, lemak diperlukan dalam jumlah yang sedikit, jadi bila terjadi kelebihan asupan lemak, maka kelebihan lemak ditimbun dalam tubuh dan tersimpan dalam pembuluh darah. Dampak buruk dari penumpukan lemak dalam tubuh adalah timbulnya cholesterol pada dinding-dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Ini sangat membahayakan kesehatan, bahkan menyebabkan kematian.
Bagaimana mengaplikasikan pola diet sehat?
Diet sehat adalah rahasia hidup sehat dan umur panjang, yang dirindukan oleh semua orang. Sayangnya, banyak orang yang menginginkan hidup sehat dan umur panjang, namun mereka enggan atau bahkan tidak tahu bagaimana menerapkan cara diet sehat ini. Sering kesadaran akan megikuti pola diet sehat muncul setelah sudah dihinggapi berbagai penyakit.
Memang mengikuti pola diet sehat bukanlah hal yang mudah, terlebih bila kita sudah bertahun-tahun mempunyai kebiasaan makan tertentu. Memilih-milih makanan lezat tanpa mempedulikan apakah makanan yang kita makan masuk dalam kriteria diet sehat atau tidak.
Sebenarnya, bila kita mengikuti pola diet sehat bukanlah berarti bahwa kita hanya makan sayur atau menjadi vegetarian; bukan pula berarti bahwa kita mengkonsumsi beras merah seumur hidup kita. Memilih diet sehat bukan berarti kita mengucapkan selamat tinggal kepada makanan-makanan enak dan lezat yang biasa kita nikmati.
Mengikuti pola diet sehat sebaliknya dimulai dengan mengadakan perubahan-perubahan kecil pada makanan yang kita pilih, juga pada cara kita mempersiapkan makanan. Jadi, diet sehat bukanlah masalah makanan baik atau buruk, makanan sehat atau tidak sehat. Tetapi diet sehat lebih berbicara tentang keseimbangan, pembatasan, dan variasi makanan.
Keseimbangan
Diet seimbang sangat diperlukan sebagai unsur pola diet sehat. Diet seimbang juga berarti tidak ada makanan yang dilarang, mengingat setiap makanan mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun beberapa jenis makanan mesti dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak, misalnya sayur dan buah, daging tanpa lemak, ikan.
Pembatasan
Pembatasan makanan tertentu perlu dilakukan mengingat kebutuhan tubuh akan unsur tertentu (misal lemak) dalam proses metabolisme tidaklah banyak.
Variasi Mengkonsumsi makanan bervariasi merupakan hal yang penting dalam diet sehat. Dengan mengkonsumi beragam makanan, tubuh akan mendapatkan persediaan nutrisi yang lengkap. Hal ini berguna bagi kesehatan.
Dapatkah diet sehat menurunkan berat badan?
Kelebihan berat badan terjadi karena makanan yang kita makan mengandung kalori yang lebih besar dari kalori yang kita habiskan dalam beraktivits. Kalori yang besar terdapat pada lemak, gula, dan karbohidrat. Jelas bahwa pola makan tinggi lemak, gula, dan karbohidrat akan mengakibatkan kenaikan berat badan. Diet sehat meliputi makan seimbang dengan pembatasan dan variasi; Dengan pembatasan makanan tinggi lemak, gula, dan karbohidrat dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur, penurunan berat badan akan terjadi dengan sendirinya.
Kita tahu bahwa buah dan sayur tidak mengandung kalori yang tinggi; sebaliknya, buah dan sayur mengandung serat makanan yang tinggi yang mempunyai peranan sangat penting dalam sistem pencernaan. Selain itu, buah dan sayur juga mengandung vitamin dan mineral yang membantu proses penyerapan makanan. Kandungan yang lain adalah zat-zat phytochemical yang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan kita, misalkan sebagai antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari kerusakan sel. Kerusakan sel oleh radikal bebas adalah penyebab terjadinya kanker.
Dengan memahami kriteria diet sehat, ketika ingin menurunkan berat badan, kita dapat menyeleksi program diet apa yang mesti kita ikuti. Ada beberapa program diet yang tidak masuk dalam daftar kriteria diet sehat. Cabbage Soup Diet (Diet sup kobis) dan 3-day diet adalah contoh program diet yang tidak termasuk dalam kriteria diet sehat.
Ada banyak variasi program diet yang tidak mempunyai pola tertentu, dimana kita dapat menentukan apa yang kita makan dan pada saat yang bersamaan kita sedang menjalankan diet sehat untuk menurunkan berat badan. Misalkan pada teknik diet Food Combining dan Dr. Hay diet, kita dapat menerapkan ilmu yang telah kita pelajarari mengenai kriteria diet sehat dengan mengikuti prinsip-prinsip diet dalam Food Combining. Contoh lainnya adalah diet menurut golongan darah: Eat Right 4 Your Type. Kita bisa mengaplikasikan cara diet sehat dengan petunjuk-petunjuk makanan yang dapat menurunkan berat badan dalam artikel diet golongan darah ini .
Kapan diet sehat mulai dipraktekkan oleh umat manusia di dunia?
Diet sehat sudah ada dan diikuti oleh manusia sejak manusia pertama kali diciptakan. Ketika manusia belum mampu memproses makanan dengan berbagai cara memasak dengan api, manusia mengkonsumsi buah dan sayur. Kita tahu bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan pola diet sehat. Pada zaman dulu, belum ada bumbu pelezat makanan seperti monosodium glutamate (MSG), zat kimia yang membuat makanan terasa lezat. Ketika itu, berbeda dengan sekarang, manusia belum begitu mempunyai keahlian mengolah masakan dengan campuran lemak. Dengan begitu, manusia-manusia pertama yang hidup di bumi benar-benar menerapkan pole diet sehat.
Siapa saja yang mesti mengikuti pola diet sehat?
Semua orang dengan semua tingkat usia perlu mengikuti pola diet sehat. Diet sehat seharusnya dimulai sejak usia yang sangat dini. Bahkan bayi usia 6 bulan keatas sudah dianjurkan mengkonsumsi sari buah. Kita setuju bahwa diet bayi adalah diet sehat pertama yang dilakukan orang-tua untuk buah hatinya. Diet sehat yang seimbang, dengan pembatasan dan variasi sangat diperlukan untuk masa pertumbuhan anak-anak sampai remaja.
Diet anak mengacu pada pola makan tertentu yang didesain untuk mengoptimalkan anak-anak tumbuh kembang. Selanjutnya, diet remaja juga mempunyai ciri tertentu. Diet untuk anak, diet untuk remaja berbeda dengan diet orang dewasa, karena anak-anak dan remaja memerlukan gizi yang lebih banyak untuk masa pertumbuhan mereka. Gizi anak dan gizi remaja harus berada pada tingkat kecukupan tertentu untuk mendukung aktifitas mereka yang cukup tinggi.
Diet sehat dengan unsur yang seimbang, pembatasan dan variasi juga sangat diperlukan oleh orang dewasa supaya bisa terbebas dari resiko kegemukan, sakit jantung, diabetes, bahkan kanker. Walaupun bagi penderita penyakit tertentu, pembatasan yang ketat menjadi keharusan. Misalkan pembatasan konsumsi lemak jenuh (saturated) pada seorang penderita jantung koroner dengan tingkat penyumbatan sampai 50%. Demikian pula dengan seorang penderita diabetes mellitus atau kencing manis, perlu membatasi konsumsi gula dalam asupan makanannya.
Terbukti bahwa diet sehat rendah lemak, kaya serat sayuran dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah pada penderita kolesterol. Konsumsi omega 3 setiap hari juga sangat berperan dalam menurunkan level trigliserida dalam darah.
10 Tips Diet Sehat
1. Mengkonsumsi 5 porsi buah dan sayuran setiap hari.
• Buah dan sayur dapat dikonsumsi sebagai snack, di sela-sela makan pagi, makan siang, dan makan malam
• Buah dapat dikonsumsi 2X dan sayur 3X
2. Makan 2 sampai 4 porsi makanan protein setiap hari
• Makanan sumber protein: hewani (ikan, produk dairy: susu dan telor) dan nabati (produk soya, kacang-kacangan)
3. Makan paling sedikit 2 porsi ikan kaya omega 3
4. Kurangi konsumsi lemak, teristimewa lemak jenuh bersumber pada daging binatang
• Gantikan dengan pemakaian minyak zaitun (olive)
• Pakai minyak olive sebagai salad dressing, pengganti mayones
• Pilih daging atau ayam tanpa lemak
5. Kurangi konsumsi gula secara berlebihan
• tambahkan gula secukupnya pada jus, atau pakai campuran buah berasa manis pada jus buah dengan rasa asam
• ganti minuman bersirup dengan air putih atau teh tawar
• minuman bersoda mengandung kadar gula yang tinggi
6. Pilih bahan karbohidrat kaya serat, seperti roti wholemeal dan sereal whole grain
7. Minum banyak air (1,75 liter sehari)
• sebanyak 6 sampai 8 gelas sehari (1,75 liter)
8. Konsumsi 2 porsi makanan produk dairy (susu & telor) dan yoghurt rendah lemak.
9. Kurangi pemakaian garam; hindari penggunaan garam meja
10. Kurangi konsumsi makanan cepat saji/ fast food sampai kurang dari seminggu sekali
• Fast food mengandung banyak lemak jenuh dan hanya terdapat sedikit nutrisi penting, seperti serat, vitamin, dan mineral (terutama kalsium)
Tahukah Anda bahwa makanan yang kita makan memberikan pengaruh yang besar terhadap kesehatan kita?
Makanan yang kita makan dapat menolong kita hidup sehat dan berumur panjang. Makanan yang kita makan dapat melindungi kita dari sakit jantung, kanker, diabetes, dan masalah kegemukan. Makanan juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan influenza ataupun infeksi virus atau bakteri lainnya.
Yang menjadi pertanyaan adalah makanan yang bagaimana yang dapat melindungi kita dari berbagai macam penyakit? Makanan apa yang dapat menolong kita bebas dari masalah kegemukan dan yang dapat membuat kita berumur panjang?
Jawabnya adalah diet sehat. Diet sehat merupakan rahasia umur panjang. Diet sehat membuat kita terhindar dari berbagai penyakit yang mematikan. Diet sehat juga dapat membantu tubuh kita mengoptimalkan tingkat energi yang berguna untuk mengatasi masalah stress.
Lalu pola diet yang bagaimana yang termasuk dalam kategori diet sehat? Apa yang mesti kita upayakan untuk mengikuti cara hidup sehat supaya kita dapat merasakan manfaat diet dalam hidup kita? Dengan gamblang, segala sesuatu yang berkenaan dengan diet sehat termasuk pola diet sehat dan tips diet sehat dibahas disini.
Apakah diet sehat itu? Apakah semua program diet yang dikenal di masyarakat adalah diet sehat?
Sebelum kita mempelajari apa diet sehat itu, kita melihat terlebih dahulu apa arti kata “diet” sebenarnya.
Menurut Ensiklopedia Webster’s New World, diet adalah suatu seleksi makanan untuk orang tertentu. Diet khusus mungkin disarankan untuk alasan medis, untuk menyeimbangkan, untuk membatasi, atau untuk meningkatkan nutrisi tertentu. Diet juga dilakukan untuk menurunkan berat badan, yaitu dengan mengurangi asupan kalori atau pemilihan makanan tertentu. Diet tertentu juga diikuti karena latar belakang agama, moral, atau alasan ekstetika.
Jelas bahwa diet yang lebih populer untuk tujuan melangsingkan tubuh, sebenarnya juga dilakukan untuk beberapa alasan lainnya. Makanan yang kita makan dapat menolong kita tidak terkena penyakit tertentu, bahkan dapat mengobati berbagai macam penyakit.
Berbagai jenis diet berikut merupakan jenis-jenis diet dengan beragam alasan.
1. diet Vegetarian
* dilatar-belakangi oleh agama dan alasan moral dan kemanusiaan.
2. diet Vegan
* dilatar-belakangi oleh agama dan alasan moral dan kemanusiaan.
3. Dr. Hay diet
* dilatar-belakangi oleh alasan medis dan menurunkan berat badan
4. diet macrobiotic
* dilatar-belakangi oleh alasan kesehatan dan umur panjang
5. diet fruitarian
* dilatar-belakangi oleh alasan medis, seperti penderita alergi
6. diet Yahudi (kosher)
* dilatar-belakangi oleh hukum agama dan adat
7. diet Islam (halal)
* dilatar-belakangi oleh tuntutan agama
8. diet Atkins
* dilatar-belakangi oleh tujuan menurunkan berat badan
9. diet golongan darah
* dilatar-belakangi oleh tujuan hidup sehat dan menurunkan berat badan
10. soup cabbage diet
* dilatar-belakangi oleh tujuan menurunkan berat badan
Jadi, apakah semua jenis diet diatas adalah diet sehat?
Untuk menjawab pertanyaan apakah semua jenis diet untuk beragam latar belakang yang disebut diatas adalah diet sehat, kita perlu melihat komposisi pilihan makanan di dalam jenis diet itu. Kita perlu mempelajari kriteria dalam diet sehat. Kriteria diet sehat terletak pada nilai asupan gizi dari pemilihan makanan tertentu sebagai program diet. Bila nutrisi yang terkandung dalam makanan tidak memenuhi standar kriteria diet sehat, maka pelaku diet perlu menyadari dan tidak meneruskan pola diet yang demikian. Jadi, tidak semua jenis diet adalah diet sehat.
Apa kriteria pola diet yang seimbang?
Diet sehat adalah diet seimbang yang mengandung
• banyak serat sayuran
• karbohidrat kompleks
• vitamin, mineral
• enzim
• minyak tidak jenuh yang dapat menjaga keseimbangan level kolesterol dalam darah
Makanan pada dasarnya merupakan sumber energi bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Makanan mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme. Adapun nutrisi yang terkandung dalam makanan adalah karbohidrat, gula, serat, protein, dan lemak, dan juga vitamin serta mineral. Tiap-tiap zat mempunyai fungsi yang berbeda. Karbohidrat, protein dan lemak, misalnya berfungsi sebagai sumber utama energi, sementara serat berfungsi untuk membantu proses pencernaan. Tanpa serat yang cukup, proses pencernaan akan terganggu. Demikian pula dengan vitamin dan mineral yang mempunyai tugas yang sangat penting yaitu mengoptimalkan proses pencernaan dan penyerapan makanan.
Menu diet sehat adalah diet seimbang yang mengandung banyak serat sayuran. Menu diet sehat tidak mengandung banyak lemak jenuh berasal dari binatang. Dalam proses metabolisme, lemak diperlukan dalam jumlah yang sedikit, jadi bila terjadi kelebihan asupan lemak, maka kelebihan lemak ditimbun dalam tubuh dan tersimpan dalam pembuluh darah. Dampak buruk dari penumpukan lemak dalam tubuh adalah timbulnya cholesterol pada dinding-dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Ini sangat membahayakan kesehatan, bahkan menyebabkan kematian.
Bagaimana mengaplikasikan pola diet sehat?
Diet sehat adalah rahasia hidup sehat dan umur panjang, yang dirindukan oleh semua orang. Sayangnya, banyak orang yang menginginkan hidup sehat dan umur panjang, namun mereka enggan atau bahkan tidak tahu bagaimana menerapkan cara diet sehat ini. Sering kesadaran akan megikuti pola diet sehat muncul setelah sudah dihinggapi berbagai penyakit.
Memang mengikuti pola diet sehat bukanlah hal yang mudah, terlebih bila kita sudah bertahun-tahun mempunyai kebiasaan makan tertentu. Memilih-milih makanan lezat tanpa mempedulikan apakah makanan yang kita makan masuk dalam kriteria diet sehat atau tidak.
Sebenarnya, bila kita mengikuti pola diet sehat bukanlah berarti bahwa kita hanya makan sayur atau menjadi vegetarian; bukan pula berarti bahwa kita mengkonsumsi beras merah seumur hidup kita. Memilih diet sehat bukan berarti kita mengucapkan selamat tinggal kepada makanan-makanan enak dan lezat yang biasa kita nikmati.
Mengikuti pola diet sehat sebaliknya dimulai dengan mengadakan perubahan-perubahan kecil pada makanan yang kita pilih, juga pada cara kita mempersiapkan makanan. Jadi, diet sehat bukanlah masalah makanan baik atau buruk, makanan sehat atau tidak sehat. Tetapi diet sehat lebih berbicara tentang keseimbangan, pembatasan, dan variasi makanan.
Keseimbangan
Diet seimbang sangat diperlukan sebagai unsur pola diet sehat. Diet seimbang juga berarti tidak ada makanan yang dilarang, mengingat setiap makanan mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun beberapa jenis makanan mesti dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak, misalnya sayur dan buah, daging tanpa lemak, ikan.
Pembatasan
Pembatasan makanan tertentu perlu dilakukan mengingat kebutuhan tubuh akan unsur tertentu (misal lemak) dalam proses metabolisme tidaklah banyak.
Variasi Mengkonsumsi makanan bervariasi merupakan hal yang penting dalam diet sehat. Dengan mengkonsumi beragam makanan, tubuh akan mendapatkan persediaan nutrisi yang lengkap. Hal ini berguna bagi kesehatan.
Dapatkah diet sehat menurunkan berat badan?
Kelebihan berat badan terjadi karena makanan yang kita makan mengandung kalori yang lebih besar dari kalori yang kita habiskan dalam beraktivits. Kalori yang besar terdapat pada lemak, gula, dan karbohidrat. Jelas bahwa pola makan tinggi lemak, gula, dan karbohidrat akan mengakibatkan kenaikan berat badan. Diet sehat meliputi makan seimbang dengan pembatasan dan variasi; Dengan pembatasan makanan tinggi lemak, gula, dan karbohidrat dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur, penurunan berat badan akan terjadi dengan sendirinya.
Kita tahu bahwa buah dan sayur tidak mengandung kalori yang tinggi; sebaliknya, buah dan sayur mengandung serat makanan yang tinggi yang mempunyai peranan sangat penting dalam sistem pencernaan. Selain itu, buah dan sayur juga mengandung vitamin dan mineral yang membantu proses penyerapan makanan. Kandungan yang lain adalah zat-zat phytochemical yang mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan kita, misalkan sebagai antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari kerusakan sel. Kerusakan sel oleh radikal bebas adalah penyebab terjadinya kanker.
Dengan memahami kriteria diet sehat, ketika ingin menurunkan berat badan, kita dapat menyeleksi program diet apa yang mesti kita ikuti. Ada beberapa program diet yang tidak masuk dalam daftar kriteria diet sehat. Cabbage Soup Diet (Diet sup kobis) dan 3-day diet adalah contoh program diet yang tidak termasuk dalam kriteria diet sehat.
Ada banyak variasi program diet yang tidak mempunyai pola tertentu, dimana kita dapat menentukan apa yang kita makan dan pada saat yang bersamaan kita sedang menjalankan diet sehat untuk menurunkan berat badan. Misalkan pada teknik diet Food Combining dan Dr. Hay diet, kita dapat menerapkan ilmu yang telah kita pelajarari mengenai kriteria diet sehat dengan mengikuti prinsip-prinsip diet dalam Food Combining. Contoh lainnya adalah diet menurut golongan darah: Eat Right 4 Your Type. Kita bisa mengaplikasikan cara diet sehat dengan petunjuk-petunjuk makanan yang dapat menurunkan berat badan dalam artikel diet golongan darah ini .
Kapan diet sehat mulai dipraktekkan oleh umat manusia di dunia?
Diet sehat sudah ada dan diikuti oleh manusia sejak manusia pertama kali diciptakan. Ketika manusia belum mampu memproses makanan dengan berbagai cara memasak dengan api, manusia mengkonsumsi buah dan sayur. Kita tahu bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan pola diet sehat. Pada zaman dulu, belum ada bumbu pelezat makanan seperti monosodium glutamate (MSG), zat kimia yang membuat makanan terasa lezat. Ketika itu, berbeda dengan sekarang, manusia belum begitu mempunyai keahlian mengolah masakan dengan campuran lemak. Dengan begitu, manusia-manusia pertama yang hidup di bumi benar-benar menerapkan pole diet sehat.
Siapa saja yang mesti mengikuti pola diet sehat?
Semua orang dengan semua tingkat usia perlu mengikuti pola diet sehat. Diet sehat seharusnya dimulai sejak usia yang sangat dini. Bahkan bayi usia 6 bulan keatas sudah dianjurkan mengkonsumsi sari buah. Kita setuju bahwa diet bayi adalah diet sehat pertama yang dilakukan orang-tua untuk buah hatinya. Diet sehat yang seimbang, dengan pembatasan dan variasi sangat diperlukan untuk masa pertumbuhan anak-anak sampai remaja.
Diet anak mengacu pada pola makan tertentu yang didesain untuk mengoptimalkan anak-anak tumbuh kembang. Selanjutnya, diet remaja juga mempunyai ciri tertentu. Diet untuk anak, diet untuk remaja berbeda dengan diet orang dewasa, karena anak-anak dan remaja memerlukan gizi yang lebih banyak untuk masa pertumbuhan mereka. Gizi anak dan gizi remaja harus berada pada tingkat kecukupan tertentu untuk mendukung aktifitas mereka yang cukup tinggi.
Diet sehat dengan unsur yang seimbang, pembatasan dan variasi juga sangat diperlukan oleh orang dewasa supaya bisa terbebas dari resiko kegemukan, sakit jantung, diabetes, bahkan kanker. Walaupun bagi penderita penyakit tertentu, pembatasan yang ketat menjadi keharusan. Misalkan pembatasan konsumsi lemak jenuh (saturated) pada seorang penderita jantung koroner dengan tingkat penyumbatan sampai 50%. Demikian pula dengan seorang penderita diabetes mellitus atau kencing manis, perlu membatasi konsumsi gula dalam asupan makanannya.
Terbukti bahwa diet sehat rendah lemak, kaya serat sayuran dapat menurunkan tingkat kolesterol dalam darah pada penderita kolesterol. Konsumsi omega 3 setiap hari juga sangat berperan dalam menurunkan level trigliserida dalam darah.
10 Tips Diet Sehat
1. Mengkonsumsi 5 porsi buah dan sayuran setiap hari.
• Buah dan sayur dapat dikonsumsi sebagai snack, di sela-sela makan pagi, makan siang, dan makan malam
• Buah dapat dikonsumsi 2X dan sayur 3X
2. Makan 2 sampai 4 porsi makanan protein setiap hari
• Makanan sumber protein: hewani (ikan, produk dairy: susu dan telor) dan nabati (produk soya, kacang-kacangan)
3. Makan paling sedikit 2 porsi ikan kaya omega 3
4. Kurangi konsumsi lemak, teristimewa lemak jenuh bersumber pada daging binatang
• Gantikan dengan pemakaian minyak zaitun (olive)
• Pakai minyak olive sebagai salad dressing, pengganti mayones
• Pilih daging atau ayam tanpa lemak
5. Kurangi konsumsi gula secara berlebihan
• tambahkan gula secukupnya pada jus, atau pakai campuran buah berasa manis pada jus buah dengan rasa asam
• ganti minuman bersirup dengan air putih atau teh tawar
• minuman bersoda mengandung kadar gula yang tinggi
6. Pilih bahan karbohidrat kaya serat, seperti roti wholemeal dan sereal whole grain
7. Minum banyak air (1,75 liter sehari)
• sebanyak 6 sampai 8 gelas sehari (1,75 liter)
8. Konsumsi 2 porsi makanan produk dairy (susu & telor) dan yoghurt rendah lemak.
9. Kurangi pemakaian garam; hindari penggunaan garam meja
10. Kurangi konsumsi makanan cepat saji/ fast food sampai kurang dari seminggu sekali
• Fast food mengandung banyak lemak jenuh dan hanya terdapat sedikit nutrisi penting, seperti serat, vitamin, dan mineral (terutama kalsium)
TIPS-TIPS MENGANTISIPASI STRES KERJA
Mengantisipasi Stress Kerja
Kategori Organisasi Industri
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 12 November 2005
Sebab Faktual & Mental
Konon, di negara maju, problem stress kerja ini mendominasi isu lain yang terkait dengan stress, misalnya stress keluarga, stress keuangan atau stress lainnya. Bagaimana kalau di Indonesia?
Terlepas itu menjadi dominan atau tidak, tapi kita semua tahu bahwa stress kerja ini kerap menjangkiti banyak pihak di tempat kerja. Dari sejumlah penjelasan para ahli, stress kerja ini bisa menimbulkan dampak baik, tapi sekaligus buruk bagi yang bersangkutan dan bagi organisasi atau perusahaan. Orang yang terkena stress kerja (dengan catatan, tidak bisa menanggulanginya) cenderung jadi tidak produktif, tidak tertantang untuk menunjukkan kehebatannya, secara tidak sadar malah menunjukkan kebodohannya, malas-malasan, tidak efektif dan tidak efisien, ingin pindah tetapi tidak pindah-pindah, dan seterusnya. Secara kalkulasi manajemen, tentu saja ini merugikan organisasi. Apalagi jika si penderita stress kerja ini jumlahnya banyak di suatu tempat.
Selain terkait dengan menurunnya produktivitas, stress kerja konon juga bisa mengurangi kekebalan tubuh. Karena itu, ada kemungkinan bahwa si penderita ini gampang terkena sakit, dari mulai yang berstadium rendah sampai ke yang berstadium tinggi. Sedikit-sedikit minta izin atau sering tidak masuk kantor. Ini jelas merugikan yang bersangkutan dan juga perusahaan. Stress kerja juga bisa mengganggu komunikasi atau hubungan, baik itu interpersonal dan intrapersonal.
Paradok yang kerap dialami para penderita stress, adalah saat memerlukan bantuan orang lain, akan tetapi dia tidak mampu mengekspresikannya atau melakukannya dengan baik. Akibatnya mudah marah, mudah tersinggung, mudah mengacaukan suasana keakraban, komunikasi yang agresif atau submisif, apatis, dan lain-lain. Karena itu, hubungannya gampang berantakan di tengah jalan, gampang putus, atau gampang ngambek.
Apa itu stress kerja dan dari mana timbul?
Dengan bahasa yang sederhana, stress kerja bisa dipahami sebagai keadaan di mana seseorang menghadapi tugas atau pekerjaan yang tidak bisa atau belum bisa dijangkau oleh kemampuannya. Jika kemampuan seseorang baru sampai angka lima tetapi menghadapi pekerjaan yang menuntut kemampuan dengan angka sembilan, maka sangat mungkin sekali orang itu akan terkena stress kerja.
Dengan pengertian seperti di atas, berarti yang menyebabkan seseorang terkena stress kerja itu ada dua.
Pertama,
karena manajemen, organisasi, atasan, atau pimpinan yang memberikan tugas melebihi kemampuan riil yang dimiliki karyawan. Ini bisa kita sebut sebab faktual. Secara fakta, orang itu benar-benar mendapat tugas atau pekerjaan yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuannya.
Kedua,
karena si karyawan sendiri. Kalau orang itu malas-masalan, biasa berpikir negatif, atau tidak mau belajar, mau enaknya saja, ya biasanya dikasih tugas sedikit lebih saja sudah menggerutu, sudah ngomong tidak bisa, tidak mampu, dan seterusnya. Ini bisa kita sebut sebab mental. Secara mental memang karyawan seperti itu perlu diperbaiki.
Dengan kata lain, stress kerja bisa timbul karena kondisi kerja (the work condition) dan kualitas si pekerja (the personal quality). Jika suatu organisasi tidak memiliki standar manajemen yang mengatur lalu lintas pekerjaan, ini mungkin akan menimbulkan stress kerja bagi orang-orang tertentu. Standar manajemen kerja yang tidak jelas akan menciptakan kondisi di mana ada orang-orang tertentu yang kebanjiran pekerjaan tetapi ada juga yang krisis tugas. Standar manajemen kerja yang tidak jelas akan menciptakan kondisi di mana ada orang-orang tertentu yang diberi tanggung jawab melebihi kapasitasnya. Ini yang terkait dengan work condition.
Adapun yang terkait dengan personal quality, misalnya saja, karyawan yang memiliki motivasi kerja bagus, memiliki tujuan karir yang lebih panjang, memiliki kebutuhan berprestasi yang lebih kuat, dan seterunya, akan lebih mudah untuk menyimpulkan target atau tugas sebagai tantangan (challenge), bukan sebagai tekanan (stressful). Stress kerja yang dialami pun menjadi motivator, penggerak dan pemicu kinerja di masa selanjutnya.
Ini beda dengan karyawan yang memiliki motivasi rendah, memiliki tujuan karir yang pendek (hanya asal bisa menerima gaji atau asal tidak nganggur), atau memiliki kebutuhan berprestasi yang kurang kuat. Karyawan tipe kedua ini akan mudah berkesimpulan bahwa tugas atau target yang diberikan kepadanya sebagai stressor. Karyawan tipe ini gampang pusing, gampang bingung, gampang merasa tertekan.
Untuk Para Pimpinan
Kalau mengacu pada laporan ILO (Condition of Work Digest, Vol. 11/2, ILO Publication Center) kondisi kerja yang bisa digambarkan dengan penjelasan di bawah ini akan berpotensi menimbulkan stress kerja:
Pertama adalah desain tugas / pekerjaan yang stressful. Ini misalnya beban kerja yang terlalu berat, kurang ada waktu untuk istirahat, jam kerja yang terlalu panjang, rutinitas yang membosankan atau target yang sulit dicapai berdasarkan kemampuan yang dimiliki pekerja (unrealistic goal or target)
Kedua adalah gaya manajemen yang stressful. Ini misalnya kurang melibatkan pekerja dalam proses mengambil keputusan, komunikasi yang kurang mencair atau kebijakan manajemen yang terlalu kejam (lack of family-friendly policies) yang hanya mementingkan faktor efisiensi dan mengabaikan faktor manusiawi.
Ketiga adalah hubungan interpersonal yang tidak kondusif. Ini misalnya terlalu banyak konflik antarindividu, kurang bersahabat antarsesama, krisis toleransi, dan seterusnya. Konon, miliu kerja yang sudah mencekam seperti ini tidak saja berakibat pada hambarnya suasana kerja antarpekerja, tetapi juga berimbas pada bagaimana orang-orang di dalam organisasi itu melayani orang lain, katakanlah seperti tamu, pelanggan, pembeli atau penelpon. Karena mereka merasakan "kekejaman" maka mereka pun memperlakukan orang lain secara kejam.
Keempat adalah peranan kerja yang tidak jelas. Ini misalnya terjadi konflik peranan, ketidakjelasan hasil kerja yang bisa diharapkan atau terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan.
Kelima adalah nasib karir yang tidak jelas. Ini misalnya terjadi ketidakamanan (insecurity), tidak ada kesempatan untuk berkembang, tidak diberi peluang untuk lebih maju, cepat melakukan perubahan yang tidak mempertimbangkan kesiapan pekerja (disorientasi), dan lain-lain. Jika ada orang yang di-PHK dengan alasan-alasan yang tidak jelas dan tidak dijelaskan, maka keputusan demikin ini bisa mengancam rasa aman pekerja lain. Mereka akan berpikir bahwa dirinya bisa saja akan bernasib sama. Kalau sudah ada banyak orang yang punya kesimpulan demikian tentu saja virus stress kerja cepat menyebar.
Keenam adalah kondisi lingkungan yang mengancam keselamatan. Ini misalnya tidak nyaman, tidak sehat, tidak leluasa, dan lain-lain. Jika seseorang harus menjalankan tugas yang ber-resiko sementara dia secara mental dan skill tidak siap, bisa saja akan terkena stress kerja.
Dari enam hal di atas, konon ada tiga yang paling dirasakan menjadi stressor, yaitu: a) memberi target, tugas atau tanggung jawab yang tidak realistis, b) lemah dukungan dari atasan, dan c) tidak membuka pintu keterlibatan dalam proses mengambil keputusan.
Nah, untuk mengurangi, mengantisipasi atau mengatasinya, maka saran yang bisa kita pertimbangkan adalah:
1. Merumuskan standar, criteria dan strategi untuk mengatur muatan kerja agar benar-benar sesuai dengan kapabilitas dan sumberdaya yang tersedia. Kalau kita menerima order yang deadline-nya begitu menekan, sementara kita secara skill dan resource belum siap dan itu kita "paksakan", ya mau tidak mau akan menimbulkan stress. Untuk mengantisipasinya berarti kita perlu mempersiapkan diri untuk memiliki kualitas yang sesuai dengan standard demand yang sekiranya akan kita hadapi. Caranya, dengan meng-up grade diri.
2. Merancang pekerjaan atau tugas yang kira-kira menantang, memberikan nilai tambah, memberikan kesempatan orang untuk mengaplikasikan keahliannya atau pengetahuan atau pengalaman. Bagaimana jika pekerjaan yang ada saat ini adalah rutinitas yang itu-itu saja? Mungkin pilihannya adalah memberi tantangan baru yang kira-kira bisa dicapai dan bisa dijadikan bukti adanya perkembangan atau peningkatan.
3. Mempertegas peranan dan tanggung jawab masing-masing orang agar tidak terjadi crowded atau overlapping. Ini bisa dilakukan secara formal (kesepakatan baku) atau non-formal (catatan berdasarkan perkembangan keadaan).
4. Memberi kesempatan berpartisipasi dalam proses mengambil keputusan. Orang akan merasa bertanggung jawab apabila dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Merasa bertanggung jawab adalah bagian positif dari kejiwaan. Jiwa yang positif akan tidak mudah terkena stress kerja.
5. Mengurangi berbagai bentuk komunikasi dan informasi yang bisa menimbulkan kekacauan, ketakutan atau ketidakpastian.
6. Memberi ruang terjadinya proses keakraban sosial di antara para pekerja, misalnya makan bareng, mengunjungi yang sakit, mengadakan perlombaan, dan lain-lain
7. Menerapkan jam kerja yang compatibel dengan tuntutan perubahan eksternal maupun tujuan yang ingin dicapai.
8. Menetapkan manajemen kinerja: memberi reward kepada yang berprestasi dan menegur yang melanggar serta menyemangati yang tertinggal. Jangan sampai kita bersikap acuh tak acuh pada yang berprestasi, acuh tak acuh pula pada yang melanggar dan acuh tak acuh pula pada yang tertinggal.
9. Menghargai kepentingan atau nilai-nilai yang dianut individu selama tidak bertentangan dengan akal sehat secara umum, misalnya memberikan hak istirahat bagi karyawan yang baru saja terkena musibah semacam kematian keluarga
10. Menjaga keputusan dan aksi (implementasi) agar sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi
Untuk Para Karyawan
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang karyawan untuk menangani stress kerja? Kalau tidak bisa menangani seluruhnya, apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya? Kalau tidak bisa menguranginya, apa yang bisa dilakukan untuk mengambil manfaat darinya? Berikut ini adalah hal-hal yang masih mungkin Anda lakukan:
Pertama,
panggilan tanggung jawab itu jalankan / artikan sebagai sebuah peluang atau kesempatan belajar. Terkadang atasan atau pimpinan juga belum tahu sejauhmana kemampuan Anda dalam sebuah tugas dan sejauhmana tugas itu realistis bisa dijalakan atau sejauh mana target itu bisa dicapai. Agar Anda dan atasan sama-sama tahu, ya jalankan lebih dulu lalu jelaskan hasilnya berdasarkan pengalaman di lapangan.
Apakah Anda melihat tugas itu sebagai stressor atau opportunity, toh ujung-ujungnya Anda juga tetap harus menjalankannya, terutama jika Anda tidak punya pilihan lain yang available. Bukankah begitu? Inilah yang bisa disebut dengan mengubah cara melihat, bersikap dan cara memperlakukan. Perbedaannya, Anda yang menganggap tugas sebagai stressor, tidak memperoleh nilai tambah apapun, baik bagi diri sendiri maupun hasil kerja. Bagaimana bisa menghasilkan yang terbaik jika hati sudah berkeluh kesah. Sebaliknya, nilai tambah sudah pasti ada di tangan bagi Anda yang menerima tugas dan tanggung jawab sebagai sebuah peluang belajar. Anda merasa tambah pengalaman dan skill, tambah rasa percaya diri, tambah dipercaya, dsb.
Kedua,
gunakan sebagai wadah untuk memperkuat diri. Kekuatan manusia itu dibentuk dengan cara seperti kekuatan yang dimiliki batang pohon. Batang pohon itu bertambah kekuatannya karena hembusan angin yang menggoyahnya. Begitu juga dengan kekuatan mental manusia dalam menghadapi hal-hal sulit. Kekuatan ini bukan kekuatan yang dibawa dari lahir, tetapi kekuatan yang merupakan hasil dari olah kemampuan dalam menghadapi hal-hal sulit. Pendeknya, kalau orang sudah terbiasa menjadikan kesulitan sebagai saran untuk "give-up", lama-lama terbiasa give-up (patah). Sebaliknya, kalau orang itu memilih untuk menantang atau membuktikan diri sebagai orang yang tangguh, lama-lama kelamaan akan terbiasa menjadi orang yang tangguh.
Ketiga,
jadikan sarana untuk menggali ilmu, informasi, atau cara melakukan sesuatu (tehnik & metode). Kalau Anda hanya menghadapi target atau pekerjaan yang biasa-biasa saja, mungkin pengetahuan, informasi, cara yang Anda miliki ya mungkin itu-itu saja. Sebaliknya, jika Anda menghadapi target yang luar biasa, mungkin untuk sementara waktu Anda tertekan, tetapi jika itu digunakan sebagai jalan untuk menambah keahlian, lama-lama kan tidak begitu.
Terkadang juga bahwa pekerjaan itu menjadi beban (stressor) atau tidak, bukan karena beban pekerjaannya, tetapi karena kemampuan kita yang belum naik. Kemampuan di sini bisa berupa kemampuan mental (mental skill) atau karena kemampuan kerja (job skill). Dengan menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan, berarti kemungkinan terjadinya stress kerja di kemudian hari bisa berkurang.
Satu hal lagi yang penting di sini adalah menjadikan pekerjaan yang kita anggap stressor itu sebagai sarana untuk menambah tehnik, metode atau cara dalam menangani pekerjaan. "Bagaimana kalau gaji kita tidak naik-naik padahal keahlian dan kemampuan kita sudah naik?" Jika Anda tidak berhenti meng-upgrade skill, serugi-ruginya Anda hari ini masih akan untung di hari esok. Skill Anda akan menaikkan kualitas Anda. Tapi jika Anda berhenti, ini malah membuat Anda stress dua kali: hari ini dan esok.
Keempat,
jadikan sarana untuk memperluas friendships. Biasanya, saat kita menghadapi tugas atau pekerjaan yang stressful, kita pun mulai berani untuk tanya sana-sini. Sebaiknya ini perlu kita jadikan pembuka untuk memperluas jaringan. Kelemahan kita terkadang adalah menghubungi orang hanya pada saat-saat kepepet. Alangkah baiknya kalau ini kita follow-up-i setelah kita tidak kepepet lagi nanti dan kita perdalam lagi hubungan yang telah ada.
Kelima,
pikirkan diri anda. Pada saat-saat menghadapi pekerjaan yang stressful, jangan hanya membayangkan atasan, manajemen, atau pimpinan yang suka maksa. Yang lebih penting untuk Anda bayangkan adalah memikirkan diri Anda yang sedang stress dan bagaimana cara mengatasinya. Kalau Anda hanya memikirkan atasan, mungkin Anda hanya akan menyalahkannya. Tapi jika Anda fokus memikirkan diri sendiri, maka yang muncul adalah kemauan atau inisiatif untuk mengatasi masalah anda.
Kategori Organisasi Industri
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 12 November 2005
Sebab Faktual & Mental
Konon, di negara maju, problem stress kerja ini mendominasi isu lain yang terkait dengan stress, misalnya stress keluarga, stress keuangan atau stress lainnya. Bagaimana kalau di Indonesia?
Terlepas itu menjadi dominan atau tidak, tapi kita semua tahu bahwa stress kerja ini kerap menjangkiti banyak pihak di tempat kerja. Dari sejumlah penjelasan para ahli, stress kerja ini bisa menimbulkan dampak baik, tapi sekaligus buruk bagi yang bersangkutan dan bagi organisasi atau perusahaan. Orang yang terkena stress kerja (dengan catatan, tidak bisa menanggulanginya) cenderung jadi tidak produktif, tidak tertantang untuk menunjukkan kehebatannya, secara tidak sadar malah menunjukkan kebodohannya, malas-malasan, tidak efektif dan tidak efisien, ingin pindah tetapi tidak pindah-pindah, dan seterusnya. Secara kalkulasi manajemen, tentu saja ini merugikan organisasi. Apalagi jika si penderita stress kerja ini jumlahnya banyak di suatu tempat.
Selain terkait dengan menurunnya produktivitas, stress kerja konon juga bisa mengurangi kekebalan tubuh. Karena itu, ada kemungkinan bahwa si penderita ini gampang terkena sakit, dari mulai yang berstadium rendah sampai ke yang berstadium tinggi. Sedikit-sedikit minta izin atau sering tidak masuk kantor. Ini jelas merugikan yang bersangkutan dan juga perusahaan. Stress kerja juga bisa mengganggu komunikasi atau hubungan, baik itu interpersonal dan intrapersonal.
Paradok yang kerap dialami para penderita stress, adalah saat memerlukan bantuan orang lain, akan tetapi dia tidak mampu mengekspresikannya atau melakukannya dengan baik. Akibatnya mudah marah, mudah tersinggung, mudah mengacaukan suasana keakraban, komunikasi yang agresif atau submisif, apatis, dan lain-lain. Karena itu, hubungannya gampang berantakan di tengah jalan, gampang putus, atau gampang ngambek.
Apa itu stress kerja dan dari mana timbul?
Dengan bahasa yang sederhana, stress kerja bisa dipahami sebagai keadaan di mana seseorang menghadapi tugas atau pekerjaan yang tidak bisa atau belum bisa dijangkau oleh kemampuannya. Jika kemampuan seseorang baru sampai angka lima tetapi menghadapi pekerjaan yang menuntut kemampuan dengan angka sembilan, maka sangat mungkin sekali orang itu akan terkena stress kerja.
Dengan pengertian seperti di atas, berarti yang menyebabkan seseorang terkena stress kerja itu ada dua.
Pertama,
karena manajemen, organisasi, atasan, atau pimpinan yang memberikan tugas melebihi kemampuan riil yang dimiliki karyawan. Ini bisa kita sebut sebab faktual. Secara fakta, orang itu benar-benar mendapat tugas atau pekerjaan yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuannya.
Kedua,
karena si karyawan sendiri. Kalau orang itu malas-masalan, biasa berpikir negatif, atau tidak mau belajar, mau enaknya saja, ya biasanya dikasih tugas sedikit lebih saja sudah menggerutu, sudah ngomong tidak bisa, tidak mampu, dan seterusnya. Ini bisa kita sebut sebab mental. Secara mental memang karyawan seperti itu perlu diperbaiki.
Dengan kata lain, stress kerja bisa timbul karena kondisi kerja (the work condition) dan kualitas si pekerja (the personal quality). Jika suatu organisasi tidak memiliki standar manajemen yang mengatur lalu lintas pekerjaan, ini mungkin akan menimbulkan stress kerja bagi orang-orang tertentu. Standar manajemen kerja yang tidak jelas akan menciptakan kondisi di mana ada orang-orang tertentu yang kebanjiran pekerjaan tetapi ada juga yang krisis tugas. Standar manajemen kerja yang tidak jelas akan menciptakan kondisi di mana ada orang-orang tertentu yang diberi tanggung jawab melebihi kapasitasnya. Ini yang terkait dengan work condition.
Adapun yang terkait dengan personal quality, misalnya saja, karyawan yang memiliki motivasi kerja bagus, memiliki tujuan karir yang lebih panjang, memiliki kebutuhan berprestasi yang lebih kuat, dan seterunya, akan lebih mudah untuk menyimpulkan target atau tugas sebagai tantangan (challenge), bukan sebagai tekanan (stressful). Stress kerja yang dialami pun menjadi motivator, penggerak dan pemicu kinerja di masa selanjutnya.
Ini beda dengan karyawan yang memiliki motivasi rendah, memiliki tujuan karir yang pendek (hanya asal bisa menerima gaji atau asal tidak nganggur), atau memiliki kebutuhan berprestasi yang kurang kuat. Karyawan tipe kedua ini akan mudah berkesimpulan bahwa tugas atau target yang diberikan kepadanya sebagai stressor. Karyawan tipe ini gampang pusing, gampang bingung, gampang merasa tertekan.
Untuk Para Pimpinan
Kalau mengacu pada laporan ILO (Condition of Work Digest, Vol. 11/2, ILO Publication Center) kondisi kerja yang bisa digambarkan dengan penjelasan di bawah ini akan berpotensi menimbulkan stress kerja:
Pertama adalah desain tugas / pekerjaan yang stressful. Ini misalnya beban kerja yang terlalu berat, kurang ada waktu untuk istirahat, jam kerja yang terlalu panjang, rutinitas yang membosankan atau target yang sulit dicapai berdasarkan kemampuan yang dimiliki pekerja (unrealistic goal or target)
Kedua adalah gaya manajemen yang stressful. Ini misalnya kurang melibatkan pekerja dalam proses mengambil keputusan, komunikasi yang kurang mencair atau kebijakan manajemen yang terlalu kejam (lack of family-friendly policies) yang hanya mementingkan faktor efisiensi dan mengabaikan faktor manusiawi.
Ketiga adalah hubungan interpersonal yang tidak kondusif. Ini misalnya terlalu banyak konflik antarindividu, kurang bersahabat antarsesama, krisis toleransi, dan seterusnya. Konon, miliu kerja yang sudah mencekam seperti ini tidak saja berakibat pada hambarnya suasana kerja antarpekerja, tetapi juga berimbas pada bagaimana orang-orang di dalam organisasi itu melayani orang lain, katakanlah seperti tamu, pelanggan, pembeli atau penelpon. Karena mereka merasakan "kekejaman" maka mereka pun memperlakukan orang lain secara kejam.
Keempat adalah peranan kerja yang tidak jelas. Ini misalnya terjadi konflik peranan, ketidakjelasan hasil kerja yang bisa diharapkan atau terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan.
Kelima adalah nasib karir yang tidak jelas. Ini misalnya terjadi ketidakamanan (insecurity), tidak ada kesempatan untuk berkembang, tidak diberi peluang untuk lebih maju, cepat melakukan perubahan yang tidak mempertimbangkan kesiapan pekerja (disorientasi), dan lain-lain. Jika ada orang yang di-PHK dengan alasan-alasan yang tidak jelas dan tidak dijelaskan, maka keputusan demikin ini bisa mengancam rasa aman pekerja lain. Mereka akan berpikir bahwa dirinya bisa saja akan bernasib sama. Kalau sudah ada banyak orang yang punya kesimpulan demikian tentu saja virus stress kerja cepat menyebar.
Keenam adalah kondisi lingkungan yang mengancam keselamatan. Ini misalnya tidak nyaman, tidak sehat, tidak leluasa, dan lain-lain. Jika seseorang harus menjalankan tugas yang ber-resiko sementara dia secara mental dan skill tidak siap, bisa saja akan terkena stress kerja.
Dari enam hal di atas, konon ada tiga yang paling dirasakan menjadi stressor, yaitu: a) memberi target, tugas atau tanggung jawab yang tidak realistis, b) lemah dukungan dari atasan, dan c) tidak membuka pintu keterlibatan dalam proses mengambil keputusan.
Nah, untuk mengurangi, mengantisipasi atau mengatasinya, maka saran yang bisa kita pertimbangkan adalah:
1. Merumuskan standar, criteria dan strategi untuk mengatur muatan kerja agar benar-benar sesuai dengan kapabilitas dan sumberdaya yang tersedia. Kalau kita menerima order yang deadline-nya begitu menekan, sementara kita secara skill dan resource belum siap dan itu kita "paksakan", ya mau tidak mau akan menimbulkan stress. Untuk mengantisipasinya berarti kita perlu mempersiapkan diri untuk memiliki kualitas yang sesuai dengan standard demand yang sekiranya akan kita hadapi. Caranya, dengan meng-up grade diri.
2. Merancang pekerjaan atau tugas yang kira-kira menantang, memberikan nilai tambah, memberikan kesempatan orang untuk mengaplikasikan keahliannya atau pengetahuan atau pengalaman. Bagaimana jika pekerjaan yang ada saat ini adalah rutinitas yang itu-itu saja? Mungkin pilihannya adalah memberi tantangan baru yang kira-kira bisa dicapai dan bisa dijadikan bukti adanya perkembangan atau peningkatan.
3. Mempertegas peranan dan tanggung jawab masing-masing orang agar tidak terjadi crowded atau overlapping. Ini bisa dilakukan secara formal (kesepakatan baku) atau non-formal (catatan berdasarkan perkembangan keadaan).
4. Memberi kesempatan berpartisipasi dalam proses mengambil keputusan. Orang akan merasa bertanggung jawab apabila dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Merasa bertanggung jawab adalah bagian positif dari kejiwaan. Jiwa yang positif akan tidak mudah terkena stress kerja.
5. Mengurangi berbagai bentuk komunikasi dan informasi yang bisa menimbulkan kekacauan, ketakutan atau ketidakpastian.
6. Memberi ruang terjadinya proses keakraban sosial di antara para pekerja, misalnya makan bareng, mengunjungi yang sakit, mengadakan perlombaan, dan lain-lain
7. Menerapkan jam kerja yang compatibel dengan tuntutan perubahan eksternal maupun tujuan yang ingin dicapai.
8. Menetapkan manajemen kinerja: memberi reward kepada yang berprestasi dan menegur yang melanggar serta menyemangati yang tertinggal. Jangan sampai kita bersikap acuh tak acuh pada yang berprestasi, acuh tak acuh pula pada yang melanggar dan acuh tak acuh pula pada yang tertinggal.
9. Menghargai kepentingan atau nilai-nilai yang dianut individu selama tidak bertentangan dengan akal sehat secara umum, misalnya memberikan hak istirahat bagi karyawan yang baru saja terkena musibah semacam kematian keluarga
10. Menjaga keputusan dan aksi (implementasi) agar sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi
Untuk Para Karyawan
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang karyawan untuk menangani stress kerja? Kalau tidak bisa menangani seluruhnya, apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya? Kalau tidak bisa menguranginya, apa yang bisa dilakukan untuk mengambil manfaat darinya? Berikut ini adalah hal-hal yang masih mungkin Anda lakukan:
Pertama,
panggilan tanggung jawab itu jalankan / artikan sebagai sebuah peluang atau kesempatan belajar. Terkadang atasan atau pimpinan juga belum tahu sejauhmana kemampuan Anda dalam sebuah tugas dan sejauhmana tugas itu realistis bisa dijalakan atau sejauh mana target itu bisa dicapai. Agar Anda dan atasan sama-sama tahu, ya jalankan lebih dulu lalu jelaskan hasilnya berdasarkan pengalaman di lapangan.
Apakah Anda melihat tugas itu sebagai stressor atau opportunity, toh ujung-ujungnya Anda juga tetap harus menjalankannya, terutama jika Anda tidak punya pilihan lain yang available. Bukankah begitu? Inilah yang bisa disebut dengan mengubah cara melihat, bersikap dan cara memperlakukan. Perbedaannya, Anda yang menganggap tugas sebagai stressor, tidak memperoleh nilai tambah apapun, baik bagi diri sendiri maupun hasil kerja. Bagaimana bisa menghasilkan yang terbaik jika hati sudah berkeluh kesah. Sebaliknya, nilai tambah sudah pasti ada di tangan bagi Anda yang menerima tugas dan tanggung jawab sebagai sebuah peluang belajar. Anda merasa tambah pengalaman dan skill, tambah rasa percaya diri, tambah dipercaya, dsb.
Kedua,
gunakan sebagai wadah untuk memperkuat diri. Kekuatan manusia itu dibentuk dengan cara seperti kekuatan yang dimiliki batang pohon. Batang pohon itu bertambah kekuatannya karena hembusan angin yang menggoyahnya. Begitu juga dengan kekuatan mental manusia dalam menghadapi hal-hal sulit. Kekuatan ini bukan kekuatan yang dibawa dari lahir, tetapi kekuatan yang merupakan hasil dari olah kemampuan dalam menghadapi hal-hal sulit. Pendeknya, kalau orang sudah terbiasa menjadikan kesulitan sebagai saran untuk "give-up", lama-lama terbiasa give-up (patah). Sebaliknya, kalau orang itu memilih untuk menantang atau membuktikan diri sebagai orang yang tangguh, lama-lama kelamaan akan terbiasa menjadi orang yang tangguh.
Ketiga,
jadikan sarana untuk menggali ilmu, informasi, atau cara melakukan sesuatu (tehnik & metode). Kalau Anda hanya menghadapi target atau pekerjaan yang biasa-biasa saja, mungkin pengetahuan, informasi, cara yang Anda miliki ya mungkin itu-itu saja. Sebaliknya, jika Anda menghadapi target yang luar biasa, mungkin untuk sementara waktu Anda tertekan, tetapi jika itu digunakan sebagai jalan untuk menambah keahlian, lama-lama kan tidak begitu.
Terkadang juga bahwa pekerjaan itu menjadi beban (stressor) atau tidak, bukan karena beban pekerjaannya, tetapi karena kemampuan kita yang belum naik. Kemampuan di sini bisa berupa kemampuan mental (mental skill) atau karena kemampuan kerja (job skill). Dengan menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan, berarti kemungkinan terjadinya stress kerja di kemudian hari bisa berkurang.
Satu hal lagi yang penting di sini adalah menjadikan pekerjaan yang kita anggap stressor itu sebagai sarana untuk menambah tehnik, metode atau cara dalam menangani pekerjaan. "Bagaimana kalau gaji kita tidak naik-naik padahal keahlian dan kemampuan kita sudah naik?" Jika Anda tidak berhenti meng-upgrade skill, serugi-ruginya Anda hari ini masih akan untung di hari esok. Skill Anda akan menaikkan kualitas Anda. Tapi jika Anda berhenti, ini malah membuat Anda stress dua kali: hari ini dan esok.
Keempat,
jadikan sarana untuk memperluas friendships. Biasanya, saat kita menghadapi tugas atau pekerjaan yang stressful, kita pun mulai berani untuk tanya sana-sini. Sebaiknya ini perlu kita jadikan pembuka untuk memperluas jaringan. Kelemahan kita terkadang adalah menghubungi orang hanya pada saat-saat kepepet. Alangkah baiknya kalau ini kita follow-up-i setelah kita tidak kepepet lagi nanti dan kita perdalam lagi hubungan yang telah ada.
Kelima,
pikirkan diri anda. Pada saat-saat menghadapi pekerjaan yang stressful, jangan hanya membayangkan atasan, manajemen, atau pimpinan yang suka maksa. Yang lebih penting untuk Anda bayangkan adalah memikirkan diri Anda yang sedang stress dan bagaimana cara mengatasinya. Kalau Anda hanya memikirkan atasan, mungkin Anda hanya akan menyalahkannya. Tapi jika Anda fokus memikirkan diri sendiri, maka yang muncul adalah kemauan atau inisiatif untuk mengatasi masalah anda.
KREATIVITAS PADA ANAK ADHD (Attention Defisit and Hyperactivity Disorder)
(Anak ADHD Yang Memiliki Kreativitas Dalam Bidang Musik)
Anak adalah titipan Tuhan Bagi setiap orang, makna memiliki seorang anak adalah hal yang tidak tergantikan dengan harta apapun di dunia ini. Setiap orangtua selalu berdoa dan berharap agar memiliki seorang anak yang sehat, baik secara fisik maupun sehat secara psikologis. Oleh karrena itu seorang ibu akan selalu menjaga si anak tersebut sejak ia masih berada dalam kandungan hingga ia lahir dan bahkan hingga ia memasuki masa-masa peralihan dari usia remaja ke masa dewasa (Hurlock, 1998).
Namun, tidak semua orangtua memiliki harapan yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan ada beberapa orang tua yang harus ikhlas dan menerima seorang nak anak ketika anak tersebut tumbuh dalam kondisi dan skeadaan fisik ataupun kondisi psikologis yang tidak normal. Salah satunya adalah memiliki anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD).
Hiperaktif adalah suatu kondisi dimana anak tidak bisa diam untuk beberapa waktu sekalipun atau mempunyai taraf aktivitas berlebihan. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas (GPPH) atau attention definit and hyperactivity disorder (ADHD), kondisi ini disebut juga gangguan kinetik (dahulu minimal brain disfungsion syndrome).
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebenarnya sudah dikenal lama oleh masyarakat, tetapi dengan istilah yang berbeda. Sejarah gangguan ADHD/GPPH telah mendapatkan berbagai label, mencerminkan berbagai pandangan tentang penyebab (etiologi) nya. Apabila melihat terminologinya, kita dapat mengelompokannya menjadi dua. Kelompok pertama, dengan istilah “Minimal Brain Damage” dan “Minimal Brain Dysfunction”; mencerminkan gagasan mengenai asumsi tentang penyebab (etiologi) gangguan, dan kedua, dengan terminologi seperti “Hyperkinetik Reactions of Childhood”.”Hyperkinetik Child Sydrome”, dan “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”; menggambarkan tingkah laku yang dilihat dalam gangguan ini. (DeClerq dalam Mulyono , 2003).
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attension Definit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang sering disebut hanya dengan hiperaktivitas (Hyperactivity), digunakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam, bahkan dalam berbagai situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran dikelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan pada umumnya disukai anak-anak seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan yang satu ke yang lain. Ini mengandung arti bahwa dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan mereka cenderung tidak memperoleh kepuasan sebanyak yang dikehendaki. (Taylor, 1998).
Hiperaktif pada anak merupakan gangguan tingkah laku, yaitu bereaksi lebih cepat terhadap suatu rangsangan dan timbul kelelahan akan lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang normal (Osman, 2002).
Sebuah kondisi hiperkatif, tidak dapat diketahui secara langsung sejak individu lahir. Pada umumnya gejala-gejala hiperaktif (ADHD) baru muncul atau terlihat ketika ia memasuki usia 1 tahun. Dan perilaku hiperaktif yang munculpun belum dapat dikategorikan sebagai perilaku hiperaktif (ADHD), karena untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan, observasi lebih lanjut lagi oleh seorang ahli (Psikolog Anak) (Siswadi, 2004).
Disnilah peran aktif orang tua untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gejala-gejala atau semua hal yang berkaitan dengan hiperkatif ataupun gangguan pemusatan perhatian (ADHD). Sehingga anak yang memiliki gejala awal hiperaktif dapat diberikan penanganan lebih awal lagi oleh ahli yang terkait.
Simanjutak dan Pasaribu (1984) menjelaskan beberapa ciri umum seorang anak apat dikategorikan mengalami gangguan hiperaktivitas dan sikap kurang memperhatikan (Impulsiviness), antara lain : suka memainkan tangan atau kaki mengeliat-geliat ditempat duduk, meninggalkan tempat duduk dikelas atau meninggalkan meja makan atau kapan pun saat ia diharuskan duduk tenang, suka berjalan-jalan atau naik-naik dalam situasi diman perilaku itu tidak tepat, terus menerus “sibuk” atau perilaku seakan-akan “digerakan oleh tenaga motor”, bicara tanpa henti, menjawab pertanyan tanpa berfikir sebelum pertanyaan tersebut selesai, mengalami kesulitan untuk menunggu giliran dalam permainan atau kegiatan yang terstruktur lain, enggangu orang lain (mengganggu pembicaraan atau permainan).
Eisenberg (dalam simanjuntak & Pasaribu, 1984) mengemukakan beberapa ciri-ciri anak hiperaktif yang terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Segi motorik
Anak tersebut selalu bergerak, tidak dapat duduk tenang dengan sesaat, anggota badannya selalu bergerak, meraba sesutu yang terlihat olehnya. Dalam kelompoknya anak hiperaktif selalu menarik perhatian karena menunjukan aktivitas yang berlebihan.
b. Segi sensori
Anak hiperaktif mempunyai perhatian yang kurang, dan mudah dialihkan. Anak hiperaktif seolah-olah tidak pernah menghiraukan isyarat dan teguran yang diberiakan padanya. Perhatiannya tearah dari satu objek keobjek yang lain yang disenanginya atau anak tersebut mempunyai short attention span (perhatian pada suatu objek/ objek hanya berlangsung untuk waktu yang singkat).
Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung secara konstan dan bersifat konsisten, sehingga hal ini benar-benar dapat mengganggu kehidupan keseharian anak tersebut. Dampak yang diakibakan dari gangguan ini antar lain : anak menjadi terhambat dalam proses berpir dan proses belajar, karena ia memiliki gangguan pemusatan perhatian, yang membuat ia tidak fokus pada pelajaran apapun yang diberikan oleh orang tuanya ataupun oleh gurunya (Osman, 2002).
Andres (dalam Rahmat, 2003) menjelaskan bahwa banyak faktor yang dicurigai sebagai faktor resiko timbulnya gangguan tingkah laku pada anak-anak penderita ADHD. Faktor-faktor resiko tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut (): Faktor Resiko biologis, yang terdiri dari adanya kehamilan yang terganggu, prematuritas, berat badan lahir rendah, trauma persalinan, asfiksia, serta pola penyakit keluarga. Faktor resiko psikososial, mencakup antara lain : keintiman keluarga termasuk ekspresi emosi, status anak dalam kelurga, serta kepadatan hunian atau banyaknya jumlah anggota keluarga.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Suryana (2004), berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain adalah :
a. Permisif (pemanjaan)
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak secara manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, memenuhi keinginan dan kebutuhanya, dan sebagainya. Biasanya anak yang dimanja diberikan pengarahan yang kurang dan sulit bergaul dengan teman sebayanya karena ingin menang sendiri,tidak punya tanggung jawab, berbuat sesuka hatinya , serta sering membantah.
b. Kurang disiplin dan pengawasan
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan ini akan berbuat sesuka hati, sebab perilakunya kurang dibatasi. Dan apa yang dilakukan oleh anak tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua.
c. Orientasi kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi pada kesenangan umumnya memiliki ciri-ciri hiperaktif secar sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda sehingga mau untuk mendengarkan dan menyesuaikan diri, serta ingin memuaskan kebutuhan kebutuhan atau keinginanya sendiri.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki oleh anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD), ternyata juga terdapat hal-hal positif yang dapat kita temukan pada anak-anak penderita Hiperaktif tersebut. Ada beberapa anak-anak penderita ADHD, ternyata memiliki bakat dan kemampuan khusus dalam suatu bidang tertentu. Misalnya, bermusik, olah raga dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada bakat dan kreativitas dalam hal bermusik.
Ada beberapa anak penderita ADHD yang terdapat di beberapa klinik dan sekolah khusus, memiliki bakat-bakat tertentu dalam berbagai bidang tertentu. Sekolah ini dibangun khusus untuk mengasah dan mengembangkan bakat-bakat tersembunyi yang dimiliki oleh anak yang menderita ADHD tersebut. Dengan harapan kreativitas dan kemampuan tersebut dapat meminimalisir perilaku hiperaktif yang sering muncul pada anak tersebut (Simanjutak dan Pasaribu, 1984).
Menurut Haris & Liebert (1987), seorang anak penderita ADHD biasanya memiliki minat pada satu aktivitas tertentu. Aktivitas tersebut nerupakan aktivitas yang paling sering ia lakukan dan paling sering kita lihat. Contohnya, anak tersebut sering terlihat memainkan bola tanpa lelah dan kenal waktu, anak tersebut sering juga terlihat memainkan alat musik tertentu (seruling, drum), dan sebagainya. Hal tersebut membuktikan bahwa, mereka juga memiliki minat dan bakat-bakat tertentu yang terpendam.
Lebih lanjut lagi Haris & Liebert (1987) menjelaskan bahwa, orang tua dan kalangan pendidik harus cermat dan lebih teliti lagi untuk mengenali minat dan bakat-bakat terpendam tersebut. Yang nantinya orang tua/pendidik bertindak sebagai pembimbing, mengarahkan serta memberikan fasilitas untuk menunjang dan mengasah minat dan bakat terpendam tersebut, yang tentu saja dibantu oleh seorang ahli (psikolog anak/dokter anak).
Osman (2002), menemukan bahwa penanganan yang tepat terhadap anak penderita ADHD, akan mampu meminimalisir dan mengurangi perilaku hiperaktif yang ada pada anak tersebut. Karena secara langsung mereka diarahkan untuk bisa fokus pada satu atau beberapa bidang tertentu dan aktivitas tertentu.
Osman (2002) juga menemukan bahwa anak-anak penderita ADHD yang memiliki bakat-bakat khusus, ternyata berprestasi dalam bidang yang digelutinya. Hal ini disebabkan karena mereka memang terfokus untuk melatih dan mengembangkan bakat dan keahlian tersebut. Sehingga tidak heran jika anak tersebut menjadi anak yang mahir dan bahkan memiliki bakat yang melebihi anak normal pada umumnya.
KOMENTAR SAYA:
Menurut saya, anak-anak penderita gangguan ADHD adalah sesuatu hal yang ada dan memang terjadi di sekitar kita. anak-anak dengan ADHD sama saja dengan anak-anak normal lainnya, yang membuat mereka berbeda adalah perilaku keseharian mereka yang mungkin cenderung lebih impulsif dan meledak-ledak secara emosional. hal tersebut dapat dimaklumi , karena mereka secara perilaku memang berbeda. namun jika kita melihat dari sudut pandang lain, misalnya kita melihat bahwa kemampuan kognitif dan intelektual mereka sangat baik, bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya.
Anak-anak penderita ADHD biasanya memiliki aktivitas tertentu yang unik dan khas, yang biasanya sering mereka lakukan atau tampilkan. perilaku atau aktivitas tersebut bersifat konstan, stabil dan cenderung konsisten. mereka bisa melkuakn akltivitas atau perilaku yang sama selama berjam-jam lamanya.
namun perilaku mengulang tersebut ternyata memang bisa membuat mereka nyaman, bahkan mereka tampak mahir melakukannya.
sebagai contoh, pada kasus-kasus tertentu ada beberapa anak penderita ADHD memiliki bakat dalam bidang musik, entah itu memainkan suatu alat musik atau bahkan bakat dalam bernyanyi. hal tersebut mereka lakukan karena dengan bermain musik, hal tersebut membuat mereka tenang dan nyaman. mereka mendapatkan suatu ketenangan yang mengasyikan, yang jika tidak mereka lakukan mereka akan menangis atau bahkan melakukan hal-hal yang buruk.
sebagai orang tua atau pendidik, justru harus bisa mengarahkan bakat musik tersebut kearah yang lebih baik, kita bisa membimbing mereka, mengarahkan, mengajarkan dan juga memberikan fasilitas yang dapat menunjang hal tersebut. perlahan-lahan proses belajar tersebut akan membuat anak tersebut mahir dalam bidang musik.
karean tidak sedkit anak-anak dengan ADHD, memang jenius dan sangat berbakat dalam bidang-bidang tertentu, yang dalam hal ini adalah bidang musik.
Daftar Pustaka:
Hurlock, E. (1998). Children language acquasition. Journal of social psychology & personality. Volume. 09. Num. 23. November. Washington DC: American Psychological Association.
Mulyono, H. (2003). JPS : Motivasi belajar pada anak-anak penderita ADHD. Jurnal Psikologi Sosial. Volume 3, No. 09. Jakarta : Fakultas Psikologi UI
Taylor, R. (1998). The child as citizen: implications for the science and practice of child development. Journal of international society for the study of behavioral development. Number 2 Serial No. 38. Ontario: Canada
Osman, D. (2002). Emotion, obedience, adjusment & crime: Studies of Childrens in New York City. New York : Academic Press.
Siswadi, U. (2004). Hubungan antara iklim kelas, kreativitas, motivasi berprestasi dengan prestasi belajar anak penderita ADHD di panti asuhan. Tesis.(Tidak Diterbitkan). Jakarta : Universitas Katolik Atma Jaya.
Simanjuntak, R J., & Pasaribu, T. (1984). Psikologi Abnormal: Sebuah pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rahmat, W. (2003). Mensikapi perubahan anak dan remaja dengan dramatis. Yogyakarta: Jalasutra
Suryana, T. (2004). Abnormalitas pada anak. Jakarta: Balai Pustaka
Haris, L., & Liebert, M. (1987). The Child. New York: McGraw Hill, Inc
(Anak ADHD Yang Memiliki Kreativitas Dalam Bidang Musik)
Anak adalah titipan Tuhan Bagi setiap orang, makna memiliki seorang anak adalah hal yang tidak tergantikan dengan harta apapun di dunia ini. Setiap orangtua selalu berdoa dan berharap agar memiliki seorang anak yang sehat, baik secara fisik maupun sehat secara psikologis. Oleh karrena itu seorang ibu akan selalu menjaga si anak tersebut sejak ia masih berada dalam kandungan hingga ia lahir dan bahkan hingga ia memasuki masa-masa peralihan dari usia remaja ke masa dewasa (Hurlock, 1998).
Namun, tidak semua orangtua memiliki harapan yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan ada beberapa orang tua yang harus ikhlas dan menerima seorang nak anak ketika anak tersebut tumbuh dalam kondisi dan skeadaan fisik ataupun kondisi psikologis yang tidak normal. Salah satunya adalah memiliki anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD).
Hiperaktif adalah suatu kondisi dimana anak tidak bisa diam untuk beberapa waktu sekalipun atau mempunyai taraf aktivitas berlebihan. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas (GPPH) atau attention definit and hyperactivity disorder (ADHD), kondisi ini disebut juga gangguan kinetik (dahulu minimal brain disfungsion syndrome).
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebenarnya sudah dikenal lama oleh masyarakat, tetapi dengan istilah yang berbeda. Sejarah gangguan ADHD/GPPH telah mendapatkan berbagai label, mencerminkan berbagai pandangan tentang penyebab (etiologi) nya. Apabila melihat terminologinya, kita dapat mengelompokannya menjadi dua. Kelompok pertama, dengan istilah “Minimal Brain Damage” dan “Minimal Brain Dysfunction”; mencerminkan gagasan mengenai asumsi tentang penyebab (etiologi) gangguan, dan kedua, dengan terminologi seperti “Hyperkinetik Reactions of Childhood”.”Hyperkinetik Child Sydrome”, dan “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”; menggambarkan tingkah laku yang dilihat dalam gangguan ini. (DeClerq dalam Mulyono , 2003).
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attension Definit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang sering disebut hanya dengan hiperaktivitas (Hyperactivity), digunakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam, bahkan dalam berbagai situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran dikelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan pada umumnya disukai anak-anak seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan yang satu ke yang lain. Ini mengandung arti bahwa dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan mereka cenderung tidak memperoleh kepuasan sebanyak yang dikehendaki. (Taylor, 1998).
Hiperaktif pada anak merupakan gangguan tingkah laku, yaitu bereaksi lebih cepat terhadap suatu rangsangan dan timbul kelelahan akan lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang normal (Osman, 2002).
Sebuah kondisi hiperkatif, tidak dapat diketahui secara langsung sejak individu lahir. Pada umumnya gejala-gejala hiperaktif (ADHD) baru muncul atau terlihat ketika ia memasuki usia 1 tahun. Dan perilaku hiperaktif yang munculpun belum dapat dikategorikan sebagai perilaku hiperaktif (ADHD), karena untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan, observasi lebih lanjut lagi oleh seorang ahli (Psikolog Anak) (Siswadi, 2004).
Disnilah peran aktif orang tua untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gejala-gejala atau semua hal yang berkaitan dengan hiperkatif ataupun gangguan pemusatan perhatian (ADHD). Sehingga anak yang memiliki gejala awal hiperaktif dapat diberikan penanganan lebih awal lagi oleh ahli yang terkait.
Simanjutak dan Pasaribu (1984) menjelaskan beberapa ciri umum seorang anak apat dikategorikan mengalami gangguan hiperaktivitas dan sikap kurang memperhatikan (Impulsiviness), antara lain : suka memainkan tangan atau kaki mengeliat-geliat ditempat duduk, meninggalkan tempat duduk dikelas atau meninggalkan meja makan atau kapan pun saat ia diharuskan duduk tenang, suka berjalan-jalan atau naik-naik dalam situasi diman perilaku itu tidak tepat, terus menerus “sibuk” atau perilaku seakan-akan “digerakan oleh tenaga motor”, bicara tanpa henti, menjawab pertanyan tanpa berfikir sebelum pertanyaan tersebut selesai, mengalami kesulitan untuk menunggu giliran dalam permainan atau kegiatan yang terstruktur lain, enggangu orang lain (mengganggu pembicaraan atau permainan).
Eisenberg (dalam simanjuntak & Pasaribu, 1984) mengemukakan beberapa ciri-ciri anak hiperaktif yang terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Segi motorik
Anak tersebut selalu bergerak, tidak dapat duduk tenang dengan sesaat, anggota badannya selalu bergerak, meraba sesutu yang terlihat olehnya. Dalam kelompoknya anak hiperaktif selalu menarik perhatian karena menunjukan aktivitas yang berlebihan.
b. Segi sensori
Anak hiperaktif mempunyai perhatian yang kurang, dan mudah dialihkan. Anak hiperaktif seolah-olah tidak pernah menghiraukan isyarat dan teguran yang diberiakan padanya. Perhatiannya tearah dari satu objek keobjek yang lain yang disenanginya atau anak tersebut mempunyai short attention span (perhatian pada suatu objek/ objek hanya berlangsung untuk waktu yang singkat).
Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung secara konstan dan bersifat konsisten, sehingga hal ini benar-benar dapat mengganggu kehidupan keseharian anak tersebut. Dampak yang diakibakan dari gangguan ini antar lain : anak menjadi terhambat dalam proses berpir dan proses belajar, karena ia memiliki gangguan pemusatan perhatian, yang membuat ia tidak fokus pada pelajaran apapun yang diberikan oleh orang tuanya ataupun oleh gurunya (Osman, 2002).
Andres (dalam Rahmat, 2003) menjelaskan bahwa banyak faktor yang dicurigai sebagai faktor resiko timbulnya gangguan tingkah laku pada anak-anak penderita ADHD. Faktor-faktor resiko tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut (): Faktor Resiko biologis, yang terdiri dari adanya kehamilan yang terganggu, prematuritas, berat badan lahir rendah, trauma persalinan, asfiksia, serta pola penyakit keluarga. Faktor resiko psikososial, mencakup antara lain : keintiman keluarga termasuk ekspresi emosi, status anak dalam kelurga, serta kepadatan hunian atau banyaknya jumlah anggota keluarga.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Suryana (2004), berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain adalah :
a. Permisif (pemanjaan)
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak secara manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, memenuhi keinginan dan kebutuhanya, dan sebagainya. Biasanya anak yang dimanja diberikan pengarahan yang kurang dan sulit bergaul dengan teman sebayanya karena ingin menang sendiri,tidak punya tanggung jawab, berbuat sesuka hatinya , serta sering membantah.
b. Kurang disiplin dan pengawasan
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan ini akan berbuat sesuka hati, sebab perilakunya kurang dibatasi. Dan apa yang dilakukan oleh anak tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua.
c. Orientasi kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi pada kesenangan umumnya memiliki ciri-ciri hiperaktif secar sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda sehingga mau untuk mendengarkan dan menyesuaikan diri, serta ingin memuaskan kebutuhan kebutuhan atau keinginanya sendiri.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki oleh anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD), ternyata juga terdapat hal-hal positif yang dapat kita temukan pada anak-anak penderita Hiperaktif tersebut. Ada beberapa anak-anak penderita ADHD, ternyata memiliki bakat dan kemampuan khusus dalam suatu bidang tertentu. Misalnya, bermusik, olah raga dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada bakat dan kreativitas dalam hal bermusik.
Ada beberapa anak penderita ADHD yang terdapat di beberapa klinik dan sekolah khusus, memiliki bakat-bakat tertentu dalam berbagai bidang tertentu. Sekolah ini dibangun khusus untuk mengasah dan mengembangkan bakat-bakat tersembunyi yang dimiliki oleh anak yang menderita ADHD tersebut. Dengan harapan kreativitas dan kemampuan tersebut dapat meminimalisir perilaku hiperaktif yang sering muncul pada anak tersebut (Simanjutak dan Pasaribu, 1984).
Menurut Haris & Liebert (1987), seorang anak penderita ADHD biasanya memiliki minat pada satu aktivitas tertentu. Aktivitas tersebut nerupakan aktivitas yang paling sering ia lakukan dan paling sering kita lihat. Contohnya, anak tersebut sering terlihat memainkan bola tanpa lelah dan kenal waktu, anak tersebut sering juga terlihat memainkan alat musik tertentu (seruling, drum), dan sebagainya. Hal tersebut membuktikan bahwa, mereka juga memiliki minat dan bakat-bakat tertentu yang terpendam.
Lebih lanjut lagi Haris & Liebert (1987) menjelaskan bahwa, orang tua dan kalangan pendidik harus cermat dan lebih teliti lagi untuk mengenali minat dan bakat-bakat terpendam tersebut. Yang nantinya orang tua/pendidik bertindak sebagai pembimbing, mengarahkan serta memberikan fasilitas untuk menunjang dan mengasah minat dan bakat terpendam tersebut, yang tentu saja dibantu oleh seorang ahli (psikolog anak/dokter anak).
Osman (2002), menemukan bahwa penanganan yang tepat terhadap anak penderita ADHD, akan mampu meminimalisir dan mengurangi perilaku hiperaktif yang ada pada anak tersebut. Karena secara langsung mereka diarahkan untuk bisa fokus pada satu atau beberapa bidang tertentu dan aktivitas tertentu.
Osman (2002) juga menemukan bahwa anak-anak penderita ADHD yang memiliki bakat-bakat khusus, ternyata berprestasi dalam bidang yang digelutinya. Hal ini disebabkan karena mereka memang terfokus untuk melatih dan mengembangkan bakat dan keahlian tersebut. Sehingga tidak heran jika anak tersebut menjadi anak yang mahir dan bahkan memiliki bakat yang melebihi anak normal pada umumnya.
KOMENTAR SAYA:
Menurut saya, anak-anak penderita gangguan ADHD adalah sesuatu hal yang ada dan memang terjadi di sekitar kita. anak-anak dengan ADHD sama saja dengan anak-anak normal lainnya, yang membuat mereka berbeda adalah perilaku keseharian mereka yang mungkin cenderung lebih impulsif dan meledak-ledak secara emosional. hal tersebut dapat dimaklumi , karena mereka secara perilaku memang berbeda. namun jika kita melihat dari sudut pandang lain, misalnya kita melihat bahwa kemampuan kognitif dan intelektual mereka sangat baik, bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya.
Anak-anak penderita ADHD biasanya memiliki aktivitas tertentu yang unik dan khas, yang biasanya sering mereka lakukan atau tampilkan. perilaku atau aktivitas tersebut bersifat konstan, stabil dan cenderung konsisten. mereka bisa melkuakn akltivitas atau perilaku yang sama selama berjam-jam lamanya.
namun perilaku mengulang tersebut ternyata memang bisa membuat mereka nyaman, bahkan mereka tampak mahir melakukannya.
sebagai contoh, pada kasus-kasus tertentu ada beberapa anak penderita ADHD memiliki bakat dalam bidang musik, entah itu memainkan suatu alat musik atau bahkan bakat dalam bernyanyi. hal tersebut mereka lakukan karena dengan bermain musik, hal tersebut membuat mereka tenang dan nyaman. mereka mendapatkan suatu ketenangan yang mengasyikan, yang jika tidak mereka lakukan mereka akan menangis atau bahkan melakukan hal-hal yang buruk.
sebagai orang tua atau pendidik, justru harus bisa mengarahkan bakat musik tersebut kearah yang lebih baik, kita bisa membimbing mereka, mengarahkan, mengajarkan dan juga memberikan fasilitas yang dapat menunjang hal tersebut. perlahan-lahan proses belajar tersebut akan membuat anak tersebut mahir dalam bidang musik.
karean tidak sedkit anak-anak dengan ADHD, memang jenius dan sangat berbakat dalam bidang-bidang tertentu, yang dalam hal ini adalah bidang musik.
Daftar Pustaka:
Hurlock, E. (1998). Children language acquasition. Journal of social psychology & personality. Volume. 09. Num. 23. November. Washington DC: American Psychological Association.
Mulyono, H. (2003). JPS : Motivasi belajar pada anak-anak penderita ADHD. Jurnal Psikologi Sosial. Volume 3, No. 09. Jakarta : Fakultas Psikologi UI
Taylor, R. (1998). The child as citizen: implications for the science and practice of child development. Journal of international society for the study of behavioral development. Number 2 Serial No. 38. Ontario: Canada
Osman, D. (2002). Emotion, obedience, adjusment & crime: Studies of Childrens in New York City. New York : Academic Press.
Siswadi, U. (2004). Hubungan antara iklim kelas, kreativitas, motivasi berprestasi dengan prestasi belajar anak penderita ADHD di panti asuhan. Tesis.(Tidak Diterbitkan). Jakarta : Universitas Katolik Atma Jaya.
Simanjuntak, R J., & Pasaribu, T. (1984). Psikologi Abnormal: Sebuah pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rahmat, W. (2003). Mensikapi perubahan anak dan remaja dengan dramatis. Yogyakarta: Jalasutra
Suryana, T. (2004). Abnormalitas pada anak. Jakarta: Balai Pustaka
Haris, L., & Liebert, M. (1987). The Child. New York: McGraw Hill, Inc
KREATIVITAS PADA ANAK PENDERITA ADHD
KREATIVITAS PADA ANAK ADHD (Attention Defisit and Hyperactivity Disorder)
(Anak ADHD Yang Memiliki Kreativitas Dalam Bidang Musik)
Anak adalah titipan Tuhan Bagi setiap orang, makna memiliki seorang anak adalah hal yang tidak tergantikan dengan harta apapun di dunia ini. Setiap orangtua selalu berdoa dan berharap agar memiliki seorang anak yang sehat, baik secara fisik maupun sehat secara psikologis. Oleh karrena itu seorang ibu akan selalu menjaga si anak tersebut sejak ia masih berada dalam kandungan hingga ia lahir dan bahkan hingga ia memasuki masa-masa peralihan dari usia remaja ke masa dewasa (Hurlock, 1998).
Namun, tidak semua orangtua memiliki harapan yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan ada beberapa orang tua yang harus ikhlas dan menerima seorang nak anak ketika anak tersebut tumbuh dalam kondisi dan skeadaan fisik ataupun kondisi psikologis yang tidak normal. Salah satunya adalah memiliki anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD).
Hiperaktif adalah suatu kondisi dimana anak tidak bisa diam untuk beberapa waktu sekalipun atau mempunyai taraf aktivitas berlebihan. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas (GPPH) atau attention definit and hyperactivity disorder (ADHD), kondisi ini disebut juga gangguan kinetik (dahulu minimal brain disfungsion syndrome).
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebenarnya sudah dikenal lama oleh masyarakat, tetapi dengan istilah yang berbeda. Sejarah gangguan ADHD/GPPH telah mendapatkan berbagai label, mencerminkan berbagai pandangan tentang penyebab (etiologi) nya. Apabila melihat terminologinya, kita dapat mengelompokannya menjadi dua. Kelompok pertama, dengan istilah “Minimal Brain Damage” dan “Minimal Brain Dysfunction”; mencerminkan gagasan mengenai asumsi tentang penyebab (etiologi) gangguan, dan kedua, dengan terminologi seperti “Hyperkinetik Reactions of Childhood”.”Hyperkinetik Child Sydrome”, dan “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”; menggambarkan tingkah laku yang dilihat dalam gangguan ini. (DeClerq dalam Mulyono , 2003).
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attension Definit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang sering disebut hanya dengan hiperaktivitas (Hyperactivity), digunakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam, bahkan dalam berbagai situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran dikelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan pada umumnya disukai anak-anak seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan yang satu ke yang lain. Ini mengandung arti bahwa dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan mereka cenderung tidak memperoleh kepuasan sebanyak yang dikehendaki. (Taylor, 1998).
Hiperaktif pada anak merupakan gangguan tingkah laku, yaitu bereaksi lebih cepat terhadap suatu rangsangan dan timbul kelelahan akan lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang normal (Osman, 2002).
Sebuah kondisi hiperkatif, tidak dapat diketahui secara langsung sejak individu lahir. Pada umumnya gejala-gejala hiperaktif (ADHD) baru muncul atau terlihat ketika ia memasuki usia 1 tahun. Dan perilaku hiperaktif yang munculpun belum dapat dikategorikan sebagai perilaku hiperaktif (ADHD), karena untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan, observasi lebih lanjut lagi oleh seorang ahli (Psikolog Anak) (Siswadi, 2004).
Disnilah peran aktif orang tua untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gejala-gejala atau semua hal yang berkaitan dengan hiperkatif ataupun gangguan pemusatan perhatian (ADHD). Sehingga anak yang memiliki gejala awal hiperaktif dapat diberikan penanganan lebih awal lagi oleh ahli yang terkait.
Simanjutak dan Pasaribu (1984) menjelaskan beberapa ciri umum seorang anak apat dikategorikan mengalami gangguan hiperaktivitas dan sikap kurang memperhatikan (Impulsiviness), antara lain : suka memainkan tangan atau kaki mengeliat-geliat ditempat duduk, meninggalkan tempat duduk dikelas atau meninggalkan meja makan atau kapan pun saat ia diharuskan duduk tenang, suka berjalan-jalan atau naik-naik dalam situasi diman perilaku itu tidak tepat, terus menerus “sibuk” atau perilaku seakan-akan “digerakan oleh tenaga motor”, bicara tanpa henti, menjawab pertanyan tanpa berfikir sebelum pertanyaan tersebut selesai, mengalami kesulitan untuk menunggu giliran dalam permainan atau kegiatan yang terstruktur lain, enggangu orang lain (mengganggu pembicaraan atau permainan).
Eisenberg (dalam simanjuntak & Pasaribu, 1984) mengemukakan beberapa ciri-ciri anak hiperaktif yang terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Segi motorik
Anak tersebut selalu bergerak, tidak dapat duduk tenang dengan sesaat, anggota badannya selalu bergerak, meraba sesutu yang terlihat olehnya. Dalam kelompoknya anak hiperaktif selalu menarik perhatian karena menunjukan aktivitas yang berlebihan.
b. Segi sensori
Anak hiperaktif mempunyai perhatian yang kurang, dan mudah dialihkan. Anak hiperaktif seolah-olah tidak pernah menghiraukan isyarat dan teguran yang diberiakan padanya. Perhatiannya tearah dari satu objek keobjek yang lain yang disenanginya atau anak tersebut mempunyai short attention span (perhatian pada suatu objek/ objek hanya berlangsung untuk waktu yang singkat).
Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung secara konstan dan bersifat konsisten, sehingga hal ini benar-benar dapat mengganggu kehidupan keseharian anak tersebut. Dampak yang diakibakan dari gangguan ini antar lain : anak menjadi terhambat dalam proses berpir dan proses belajar, karena ia memiliki gangguan pemusatan perhatian, yang membuat ia tidak fokus pada pelajaran apapun yang diberikan oleh orang tuanya ataupun oleh gurunya (Osman, 2002).
Andres (dalam Rahmat, 2003) menjelaskan bahwa banyak faktor yang dicurigai sebagai faktor resiko timbulnya gangguan tingkah laku pada anak-anak penderita ADHD. Faktor-faktor resiko tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut (): Faktor Resiko biologis, yang terdiri dari adanya kehamilan yang terganggu, prematuritas, berat badan lahir rendah, trauma persalinan, asfiksia, serta pola penyakit keluarga. Faktor resiko psikososial, mencakup antara lain : keintiman keluarga termasuk ekspresi emosi, status anak dalam kelurga, serta kepadatan hunian atau banyaknya jumlah anggota keluarga.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Suryana (2004), berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain adalah :
a. Permisif (pemanjaan)
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak secara manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, memenuhi keinginan dan kebutuhanya, dan sebagainya. Biasanya anak yang dimanja diberikan pengarahan yang kurang dan sulit bergaul dengan teman sebayanya karena ingin menang sendiri,tidak punya tanggung jawab, berbuat sesuka hatinya , serta sering membantah.
b. Kurang disiplin dan pengawasan
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan ini akan berbuat sesuka hati, sebab perilakunya kurang dibatasi. Dan apa yang dilakukan oleh anak tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua.
c. Orientasi kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi pada kesenangan umumnya memiliki ciri-ciri hiperaktif secar sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda sehingga mau untuk mendengarkan dan menyesuaikan diri, serta ingin memuaskan kebutuhan kebutuhan atau keinginanya sendiri.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki oleh anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD), ternyata juga terdapat hal-hal positif yang dapat kita temukan pada anak-anak penderita Hiperaktif tersebut. Ada beberapa anak-anak penderita ADHD, ternyata memiliki bakat dan kemampuan khusus dalam suatu bidang tertentu. Misalnya, bermusik, olah raga dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada bakat dan kreativitas dalam hal bermusik.
Ada beberapa anak penderita ADHD yang terdapat di beberapa klinik dan sekolah khusus, memiliki bakat-bakat tertentu dalam berbagai bidang tertentu. Sekolah ini dibangun khusus untuk mengasah dan mengembangkan bakat-bakat tersembunyi yang dimiliki oleh anak yang menderita ADHD tersebut. Dengan harapan kreativitas dan kemampuan tersebut dapat meminimalisir perilaku hiperaktif yang sering muncul pada anak tersebut (Simanjutak dan Pasaribu, 1984).
Menurut Haris & Liebert (1987), seorang anak penderita ADHD biasanya memiliki minat pada satu aktivitas tertentu. Aktivitas tersebut nerupakan aktivitas yang paling sering ia lakukan dan paling sering kita lihat. Contohnya, anak tersebut sering terlihat memainkan bola tanpa lelah dan kenal waktu, anak tersebut sering juga terlihat memainkan alat musik tertentu (seruling, drum), dan sebagainya. Hal tersebut membuktikan bahwa, mereka juga memiliki minat dan bakat-bakat tertentu yang terpendam.
Lebih lanjut lagi Haris & Liebert (1987) menjelaskan bahwa, orang tua dan kalangan pendidik harus cermat dan lebih teliti lagi untuk mengenali minat dan bakat-bakat terpendam tersebut. Yang nantinya orang tua/pendidik bertindak sebagai pembimbing, mengarahkan serta memberikan fasilitas untuk menunjang dan mengasah minat dan bakat terpendam tersebut, yang tentu saja dibantu oleh seorang ahli (psikolog anak/dokter anak).
Osman (2002), menemukan bahwa penanganan yang tepat terhadap anak penderita ADHD, akan mampu meminimalisir dan mengurangi perilaku hiperaktif yang ada pada anak tersebut. Karena secara langsung mereka diarahkan untuk bisa fokus pada satu atau beberapa bidang tertentu dan aktivitas tertentu.
Osman (2002) juga menemukan bahwa anak-anak penderita ADHD yang memiliki bakat-bakat khusus, ternyata berprestasi dalam bidang yang digelutinya. Hal ini disebabkan karena mereka memang terfokus untuk melatih dan mengembangkan bakat dan keahlian tersebut. Sehingga tidak heran jika anak tersebut menjadi anak yang mahir dan bahkan memiliki bakat yang melebihi anak normal pada umumnya.
(Anak ADHD Yang Memiliki Kreativitas Dalam Bidang Musik)
Anak adalah titipan Tuhan Bagi setiap orang, makna memiliki seorang anak adalah hal yang tidak tergantikan dengan harta apapun di dunia ini. Setiap orangtua selalu berdoa dan berharap agar memiliki seorang anak yang sehat, baik secara fisik maupun sehat secara psikologis. Oleh karrena itu seorang ibu akan selalu menjaga si anak tersebut sejak ia masih berada dalam kandungan hingga ia lahir dan bahkan hingga ia memasuki masa-masa peralihan dari usia remaja ke masa dewasa (Hurlock, 1998).
Namun, tidak semua orangtua memiliki harapan yang sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan ada beberapa orang tua yang harus ikhlas dan menerima seorang nak anak ketika anak tersebut tumbuh dalam kondisi dan skeadaan fisik ataupun kondisi psikologis yang tidak normal. Salah satunya adalah memiliki anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD).
Hiperaktif adalah suatu kondisi dimana anak tidak bisa diam untuk beberapa waktu sekalipun atau mempunyai taraf aktivitas berlebihan. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas (GPPH) atau attention definit and hyperactivity disorder (ADHD), kondisi ini disebut juga gangguan kinetik (dahulu minimal brain disfungsion syndrome).
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebenarnya sudah dikenal lama oleh masyarakat, tetapi dengan istilah yang berbeda. Sejarah gangguan ADHD/GPPH telah mendapatkan berbagai label, mencerminkan berbagai pandangan tentang penyebab (etiologi) nya. Apabila melihat terminologinya, kita dapat mengelompokannya menjadi dua. Kelompok pertama, dengan istilah “Minimal Brain Damage” dan “Minimal Brain Dysfunction”; mencerminkan gagasan mengenai asumsi tentang penyebab (etiologi) gangguan, dan kedua, dengan terminologi seperti “Hyperkinetik Reactions of Childhood”.”Hyperkinetik Child Sydrome”, dan “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”; menggambarkan tingkah laku yang dilihat dalam gangguan ini. (DeClerq dalam Mulyono , 2003).
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attension Definit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang sering disebut hanya dengan hiperaktivitas (Hyperactivity), digunakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak-anak yang hiperaktif selalu bergerak. Mereka tidak mau diam, bahkan dalam berbagai situasi, misalnya ketika sedang mengikuti pelajaran dikelas yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan pada umumnya disukai anak-anak seusia mereka, sebentar-sebentar mereka tergerak untuk beralih dari permainan atau mainan yang satu ke yang lain. Ini mengandung arti bahwa dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan mereka cenderung tidak memperoleh kepuasan sebanyak yang dikehendaki. (Taylor, 1998).
Hiperaktif pada anak merupakan gangguan tingkah laku, yaitu bereaksi lebih cepat terhadap suatu rangsangan dan timbul kelelahan akan lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak yang normal (Osman, 2002).
Sebuah kondisi hiperkatif, tidak dapat diketahui secara langsung sejak individu lahir. Pada umumnya gejala-gejala hiperaktif (ADHD) baru muncul atau terlihat ketika ia memasuki usia 1 tahun. Dan perilaku hiperaktif yang munculpun belum dapat dikategorikan sebagai perilaku hiperaktif (ADHD), karena untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan, observasi lebih lanjut lagi oleh seorang ahli (Psikolog Anak) (Siswadi, 2004).
Disnilah peran aktif orang tua untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gejala-gejala atau semua hal yang berkaitan dengan hiperkatif ataupun gangguan pemusatan perhatian (ADHD). Sehingga anak yang memiliki gejala awal hiperaktif dapat diberikan penanganan lebih awal lagi oleh ahli yang terkait.
Simanjutak dan Pasaribu (1984) menjelaskan beberapa ciri umum seorang anak apat dikategorikan mengalami gangguan hiperaktivitas dan sikap kurang memperhatikan (Impulsiviness), antara lain : suka memainkan tangan atau kaki mengeliat-geliat ditempat duduk, meninggalkan tempat duduk dikelas atau meninggalkan meja makan atau kapan pun saat ia diharuskan duduk tenang, suka berjalan-jalan atau naik-naik dalam situasi diman perilaku itu tidak tepat, terus menerus “sibuk” atau perilaku seakan-akan “digerakan oleh tenaga motor”, bicara tanpa henti, menjawab pertanyan tanpa berfikir sebelum pertanyaan tersebut selesai, mengalami kesulitan untuk menunggu giliran dalam permainan atau kegiatan yang terstruktur lain, enggangu orang lain (mengganggu pembicaraan atau permainan).
Eisenberg (dalam simanjuntak & Pasaribu, 1984) mengemukakan beberapa ciri-ciri anak hiperaktif yang terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Segi motorik
Anak tersebut selalu bergerak, tidak dapat duduk tenang dengan sesaat, anggota badannya selalu bergerak, meraba sesutu yang terlihat olehnya. Dalam kelompoknya anak hiperaktif selalu menarik perhatian karena menunjukan aktivitas yang berlebihan.
b. Segi sensori
Anak hiperaktif mempunyai perhatian yang kurang, dan mudah dialihkan. Anak hiperaktif seolah-olah tidak pernah menghiraukan isyarat dan teguran yang diberiakan padanya. Perhatiannya tearah dari satu objek keobjek yang lain yang disenanginya atau anak tersebut mempunyai short attention span (perhatian pada suatu objek/ objek hanya berlangsung untuk waktu yang singkat).
Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung secara konstan dan bersifat konsisten, sehingga hal ini benar-benar dapat mengganggu kehidupan keseharian anak tersebut. Dampak yang diakibakan dari gangguan ini antar lain : anak menjadi terhambat dalam proses berpir dan proses belajar, karena ia memiliki gangguan pemusatan perhatian, yang membuat ia tidak fokus pada pelajaran apapun yang diberikan oleh orang tuanya ataupun oleh gurunya (Osman, 2002).
Andres (dalam Rahmat, 2003) menjelaskan bahwa banyak faktor yang dicurigai sebagai faktor resiko timbulnya gangguan tingkah laku pada anak-anak penderita ADHD. Faktor-faktor resiko tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut (): Faktor Resiko biologis, yang terdiri dari adanya kehamilan yang terganggu, prematuritas, berat badan lahir rendah, trauma persalinan, asfiksia, serta pola penyakit keluarga. Faktor resiko psikososial, mencakup antara lain : keintiman keluarga termasuk ekspresi emosi, status anak dalam kelurga, serta kepadatan hunian atau banyaknya jumlah anggota keluarga.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Suryana (2004), berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif antara lain adalah :
a. Permisif (pemanjaan)
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak secara manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, memenuhi keinginan dan kebutuhanya, dan sebagainya. Biasanya anak yang dimanja diberikan pengarahan yang kurang dan sulit bergaul dengan teman sebayanya karena ingin menang sendiri,tidak punya tanggung jawab, berbuat sesuka hatinya , serta sering membantah.
b. Kurang disiplin dan pengawasan
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan ini akan berbuat sesuka hati, sebab perilakunya kurang dibatasi. Dan apa yang dilakukan oleh anak tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari orang tua.
c. Orientasi kesenangan
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi pada kesenangan umumnya memiliki ciri-ciri hiperaktif secar sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda sehingga mau untuk mendengarkan dan menyesuaikan diri, serta ingin memuaskan kebutuhan kebutuhan atau keinginanya sendiri.
Berdasarkan penyebabnya, hiperaktif dibedakan dalan dua kelompok, yaitu faktor psikis dan fisik. Dari pemeriksaan fisik (neurolog), umumnya ditemukan bahwa, pada anak penderita hiperaktif tampak terjadi abnormalitas aktivitas otak. Data lain, seperti pematangan awal kelenjar-kelenjar tubuh, serta kerusakan atau terjadinya gangguan sistem saraf. Dari sisi psikologisnya, terjadinya tingkah laku hiperaktif lebih dipengaruhi oleh kurangnya perhatian atau cinta kasih orang tua. Akibatnya, jiwa anak mengalami kekosongan belaian kasih, sebagai kompensasi atas kondisi tersebut anak mencoba mencari pemuasan diri melalui objek lain atau tindakan untuk menggantikannya. (Robinson dalam Rahmat, 2003).
Terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki oleh anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD), ternyata juga terdapat hal-hal positif yang dapat kita temukan pada anak-anak penderita Hiperaktif tersebut. Ada beberapa anak-anak penderita ADHD, ternyata memiliki bakat dan kemampuan khusus dalam suatu bidang tertentu. Misalnya, bermusik, olah raga dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada bakat dan kreativitas dalam hal bermusik.
Ada beberapa anak penderita ADHD yang terdapat di beberapa klinik dan sekolah khusus, memiliki bakat-bakat tertentu dalam berbagai bidang tertentu. Sekolah ini dibangun khusus untuk mengasah dan mengembangkan bakat-bakat tersembunyi yang dimiliki oleh anak yang menderita ADHD tersebut. Dengan harapan kreativitas dan kemampuan tersebut dapat meminimalisir perilaku hiperaktif yang sering muncul pada anak tersebut (Simanjutak dan Pasaribu, 1984).
Menurut Haris & Liebert (1987), seorang anak penderita ADHD biasanya memiliki minat pada satu aktivitas tertentu. Aktivitas tersebut nerupakan aktivitas yang paling sering ia lakukan dan paling sering kita lihat. Contohnya, anak tersebut sering terlihat memainkan bola tanpa lelah dan kenal waktu, anak tersebut sering juga terlihat memainkan alat musik tertentu (seruling, drum), dan sebagainya. Hal tersebut membuktikan bahwa, mereka juga memiliki minat dan bakat-bakat tertentu yang terpendam.
Lebih lanjut lagi Haris & Liebert (1987) menjelaskan bahwa, orang tua dan kalangan pendidik harus cermat dan lebih teliti lagi untuk mengenali minat dan bakat-bakat terpendam tersebut. Yang nantinya orang tua/pendidik bertindak sebagai pembimbing, mengarahkan serta memberikan fasilitas untuk menunjang dan mengasah minat dan bakat terpendam tersebut, yang tentu saja dibantu oleh seorang ahli (psikolog anak/dokter anak).
Osman (2002), menemukan bahwa penanganan yang tepat terhadap anak penderita ADHD, akan mampu meminimalisir dan mengurangi perilaku hiperaktif yang ada pada anak tersebut. Karena secara langsung mereka diarahkan untuk bisa fokus pada satu atau beberapa bidang tertentu dan aktivitas tertentu.
Osman (2002) juga menemukan bahwa anak-anak penderita ADHD yang memiliki bakat-bakat khusus, ternyata berprestasi dalam bidang yang digelutinya. Hal ini disebabkan karena mereka memang terfokus untuk melatih dan mengembangkan bakat dan keahlian tersebut. Sehingga tidak heran jika anak tersebut menjadi anak yang mahir dan bahkan memiliki bakat yang melebihi anak normal pada umumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
